Perayaan Ekaristi Minggu Palma di Paroki St.Petrus & Paulus Kelor Berlangsung Khidmat

Perayaan Ekaristi Minggu Palma di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor berlangsung dengan penuh kekhidmatan pada Sabtu–Minggu, 28–29 Maret 2026. Seluruh umat paroki Kelor yang hadir di gereja mengikuti rangkaian Ekaristi yang diselenggarakan baik di gereja paroki maupun di kapel-kapel wilayah dengan semangat iman, meskipun dalam situasi cuaca yang kurang bersahabat pada sebagian perayaan.
Makna Minggu Palma
Perayaan Minggu Palma merupakan pembuka Pekan Suci yang mengenangkan peristiwa Yesus memasuki Yerusalem dengan dielu-elukan sebagai Raja Damai. Di Paroki Kelor, perayaan ini diwujudkan melalui Misa Sabtu Palma dan Minggu Palma yang dilaksanakan di beberapa titik, yakni gereja paroki dan kapel-kapel wilayah.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh dua imam, yaitu Romo Markus Januharka, Pr (Romo Nanung) dan Romo Christophorus Sutrasno Purwanto, Pr (Romo Trasno). Umat Paroki Kelor dari berbagai wilayah turut ambil bagian secara aktif bersama para petugas liturgi.
Pelaksanaan Misa Minggu Palma
Misa Sabtu Palma berlangsung pada 28 Maret 2026 dengan jadwal:
Pukul 15.00 di Kapel Wilayah Wonosari Jurangjero
Pukul 15.30 di Kapel Wilayah Ngawen
Pukul 18.00 di Gereja Paroki Kelor
Sementara itu, perayaan Minggu Palma pada 29 Maret 2026 dilaksanakan pada:
Pukul 07.00 di Gereja Paroki Kelor dan Kapel Wilayah Semin
Pukul 16.30 di Kapel Wilayah Sambeng dan Kapel Wilayah Candirejo
Dimana Saja Misa Minggu Palma Berlangsung di Paroki Kelor
Seluruh perayaan Ekaristi berlangsung di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor serta kapel-kapel wilayah, yaitu Wonosari Jurangjero, Ngawen, Semin, Sambeng, dan Candirejo.
Mengapa Umat Katolik Merayakan Minggu Palma?
Minggu Palma dirayakan untuk mengenangkan peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem sebelum sengsara dan wafat-Nya. Perayaan ini menjadi awal perjalanan iman umat memasuki Pekan Suci, merenungkan kasih dan pengorbanan Yesus Kristus bagi keselamatan manusia.
Jalannya Misa Minggu Palma
Misa Sabtu Palma di Kapel Wonosari Jurangjero dan Gereja Paroki Kelor dipimpin oleh Romo Nanung, sedangkan di Kapel Ngawen dipimpin oleh Romo Trasno. Misa di gereja paroki berlangsung khidmat meskipun diguyur hujan, sehingga perarakan palma yang biasanya dilakukan pada Sabtu sore tidak dilaksanakan.
Pada Minggu pagi, suasana berbeda tampak dalam perayaan di Gereja Paroki Kelor. Perarakan berlangsung dengan khidmat, dimulai dari balai dusun Kelor di belakang gereja menuju ke dalam gereja. Romo, para petugas liturgi, dan umat berjalan bersama sambil membawa daun palma.
Perarakan ini menjadi simbol peristiwa Yesus yang memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai dan disambut dengan sorak-sorai “Hosanna bagi Putra Daud. Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 21:9).
Keledai yang ditunggangi Yesus melambangkan kerendahan hati dan kesederhanaan.
Yesus hadir bukan sebagai raja duniawi yang penuh kemegahan, melainkan sebagai Raja Damai yang rela berkorban hingga wafat di kayu salib demi menebus dosa manusia.
Katekese Minggu Palma
Bacaan Kitab Suci saat Minggu Palma (Injil Matius 21:1-11, Kitab Yesaya 50:4-7 dan Filipi 2:6-11) mengajak umat untuk merenungkan dua sisi iman yaitu kemuliaan dan penderitaan. Di satu sisi, umat bersukacita menyambut Yesus dengan daun palma sebagai tanda kemenangan. Namun di sisi lain, Injil sengsara yang dibacakan mengingatkan bahwa jalan keselamatan ditempuh melalui penderitaan dan pengorbanan.
Hal ini menjadi reminder bagi umat Katolik dalam panggilannya untuk tetap setia mengikuti Kristus, tidak hanya dalam saat-saat penuh sukacita, tetapi juga dalam kesulitan hidup. Daun palma yang dibawa bukan sekadar simbol perayaan, tetapi tanda komitmen untuk hidup dalam kerendahan hati, kesetiaan, dan kasih seperti Kristus.
Perayaan Minggu Palma di Paroki Kelor menjadi momentum bagi umat untuk memperdalam iman dan mempersiapkan hati memasuki misteri Paskah dengan penuh penghayatan.
Selamat memasuki Pekan Suci. Berkah Dalem.
