Cinta yang Merendah dan Melayani: Makna Misa Kamis Putih di Paroki Kelor

 Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor mengawali rangkaian Tri Hari Suci dengan Perayaan Ekaristi Kamis Putih yang berlangsung khidmat pada Kamis, 2 April 2026. Misa yang dimulai pukul 18.00 WIB di gereja paroki dipimpin oleh romo tamu, Pastor Paul Suparno, SJ. Umat dari berbagai wilayah hadir dengan penuh devosi untuk mengenangkan peristiwa agung yang menjadi dasar iman Kristiani.

Selain di gereja paroki, perayaan juga dilaksanakan di kapel-kapel wilayah Semin, Candirejo, dan Sambeng pada waktu yang sama, sementara Kapel Jurangjero menyelenggarakan misa lebih awal pada pukul 15.00 WIB. Perayaan di wilayah dipimpin oleh Romo Nanung, Romo Trasno, serta romo tamu Romo Andika, sehingga seluruh umat Paroki Kelor dapat mengambil bagian dalam perayaan yang penuh makna ini.

Dalam homilinya, Pastor Paul Suparno, SJ mengajak umat untuk merenungkan inti dari Kamis Putih, yaitu cinta kasih yang diwujudkan dalam pelayanan. Hal ini secara nyata ditampilkan dalam ritus pembasuhan kaki. Sebanyak dua belas umat yang terdiri dari remaja dan orang tua dipilih sebagai lambang dua belas rasul. Pastor Paul membasuh kaki mereka satu per satu dengan penuh kerendahan hati.

Tindakan ini menjadi katakese yang hidup. Yesus, Sang Guru dan Tuhan, rela merendahkan diri-Nya untuk melakukan pekerjaan seorang hamba. Dalam budaya saat itu, membasuh kaki adalah tugas paling rendah. Namun Yesus justru menunjukkan bahwa kebesaran sejati terletak pada kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani. Ia mengajarkan bahwa cinta kasih tidak berhenti pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kamis Putih juga mengajak umat untuk masuk dalam peristiwa Perjamuan Terakhir. Pada malam sebelum sengsara-Nya, Yesus makan bersama dengan para murid. Dalam perjamuan itu, Ia memecah-mecahkan roti dan membagikan anggur sebagai tubuh dan darah-Nya. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal Sakramen Ekaristi, sakramen mahakudus yang menjadi sumber dan puncak kehidupan umat beriman.

Pengorbanan Yesus dalam Ekaristi adalah wujud cinta yang total. Ia memberikan tubuh dan darah-Nya untuk menebus dosa manusia. Setiap kali Ekaristi dirayakan, umat diajak untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga mengambil bagian dalam misteri kasih tersebut.

Makna makan bersama yang dihadirkan dalam Perjamuan Terakhir juga menjadi refleksi mendalam bagi kehidupan sehari-hari. Makan bersama adalah momen yang menyenangkan ketika dilandasi oleh cinta dan kebersamaan. Namun, tanpa kasih, kebersamaan itu menjadi kosong dan kehilangan arti. Kamis Putih mengingatkan umat bahwa setiap relasi dan perjumpaan akan bermakna jika dilandasi cinta kasih.

Setelah perayaan Ekaristi, dilaksanakan perarakan Sakramen Mahakudus sebagai tanda berakhirnya Misa Kamis Putih. Umat kemudian melanjutkan dengan tuguran, sebuah tradisi doa berjaga bersama mengenang Yesus yang berdoa di Taman Getsemani.

Menariknya, tuguran tahun ini di Paroki Kelor menghadirkan nuansa yang berbeda. Jika biasanya diisi oleh doa dari masing-masing lingkungan, kali ini tuguran dilakukan secara bergantian oleh kelompok-kelompok kategorial. Dimulai pukul 20.00 hingga 00.00 WIB, doa dipimpin oleh kelompok pemeran rasul, Taizé, Karismatik, Legio Maria, PUPIP, kelompok Macapat, serta dilanjutkan dengan doa pribadi umat.

Suasana hening, syahdu, dan penuh penghayatan terasa sepanjang tuguran. Umat diajak untuk berjaga, menemani Yesus dalam doa, sekaligus merefleksikan perjalanan iman masing-masing.

Melalui seluruh rangkaian perayaan Kamis Putih ini, umat Paroki Kelor diingatkan kembali akan panggilan dasar sebagai murid Kristus: mengasihi dan melayani. Teladan Yesus yang membasuh kaki para murid dan memberikan diri-Nya dalam Ekaristi menjadi inspirasi untuk hidup dalam kerendahan hati dan kasih yang tulus.

Dengan demikian, Kamis Putih bukan sekadar perayaan liturgi, tetapi juga sebuah undangan untuk menghidupi iman dalam tindakan nyata—membangun kebersamaan yang penuh cinta, melayani tanpa pamrih, dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.