Pada hari Minggu, 12 April 2026, Pendopo Santo Matius Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor menjadi ruang perjumpaan yang hangat dan penuh makna. Dalam suasana sederhana namun sarat persaudaraan, para pe keluarga dari berbagai paroki di rayon Gunungkidul, Kevikepan Yogyakarta Timur, berkumpul dalam Pertemuan Tim Pendamping Keluarga Paroki (TPKP).
Pertemuan ini bukan sekadar agenda koordinasi, melainkan sebuah perjalanan iman bersama, dimana setiap peserta diajak kembali menyadari bahwa keluarga adalah rencana Allah sejak semula.
Keluarga sebagai Gereja Miniatur
Melalui perkenalan Romo Marcelinus Moi, MSF sebagai Romo Komisi Keluarga Kevikepan Yogyakarta Timur, serta sosialisasi Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS IX), kita diajak melihat kembali wajah keluarga dalam terang iman.

Keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama, melainkan sebagai gereja kecil (ecclesia domestica), tempat iman ditanam, dipelihara, dan diwariskan.
Dalam keluarga, ada banyak pengalaman pertama kali yang dialami. Antara lain : cinta kasih, pengampunan dan doa yang pertama kali diajarkan.
Di tengah dunia yang terus berubah, keluarga tetap menjadi tempat Allah berkarya secara nyata.
Dipanggil Menjadi Keluarga yang Bahagia dan Menginspirasi
Fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2026 mengajak kita menjadi gereja yang bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan. Semua hal itu berawal dari keluarga.
Keluarga yang bahagia bukanlah keluarga tanpa masalah, melainkan keluarga yang:mampu berkomunikasi dengan hati, berani mengampuni, setia dalam cinta dan komitmen dan hidup dalam iman yang nyata

Peran Tim Pendamping Keluarga
Dalam pertemuan ini ditegaskan kembali peran penting Tim Pendamping Keluarga (KPHB) di paroki. Mereka bukan sekadar pelaksana program, melainkan sebagai sahabat perjalanan keluarga yang melayani dengan hati.
Pendampingan dimulai sejak:masa persiapan pernikahan, kehidupan awal berkeluarga, hingga dinamika panjang dalam rumah tangga Melalui pendampingan, gereja hadir dengan mendengarkan, memahami, dan menemani.
Sekolah Keluarga Katolik Merupakan Ruang Bertumbuh Bersama
Salah satu wujud nyata perhatian Gereja adalah hadirnya Sekolah Keluarga Katolik. Program ini bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang untuk saling berbagi, saling menguatkan dan saling meneguhkan.
Materi yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu :
- Bagaimana berkomunikasi dengan pasangan
- Bagaimana mengelola konflik
- Bagaimana mendidik iman anak
- Hingga bagaimana menghidupi spiritualitas dalam keluarga
Semua ini menegaskan bahwa menjadi keluarga Katolik adalah sebuah panggilan yang perlu terus dipelajari dan diperjuangkan.
Gereja yang Hadir dan Peduli
Kehadiran Family Crisis Centre (FCC) menjadi tanda nyata bahwa Gereja tidak tinggal diam terhadap pergumulan keluarga. Setiap hari Rabu, Gereja membuka diri untuk mendampingi mereka yang sedang berjuang—baik dalam persoalan relasi, kesehatan, hukum, maupun ekonomi.
Ini adalah wujud Gereja yang mendengar tanpa menghakimi, merangkul tanpa membeda-bedakan dan menolong dengan kasih
Keluarga Adalah Sumber Harapan bagi Dunia
Pertemuan ini meneguhkan kembali bahwa keluarga memiliki peran besar dalam kehidupan Gereja dan masyarakat. Dari keluarga yang kuat, akan lahir pribadi-pribadi yang beriman, komunitas yang peduli, dan dunia yang lebih manusiawi.
Keluarga dipanggil bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk menjadi sumber harapan, saksi kasih Kristus dan terang bagi sesama
Berjalan Bersama dalam Kasih
Pertemuan diakhiri dengan foto bersama dan makan siang dalam suasana penuh kehangatan. Namun lebih dari itu, setiap peserta pulang membawa semangat baru—untuk terus melayani, mendampingi, dan menghidupi panggilan sebagai keluarga Katolik.
Kiranya setiap keluarga di Paroki Kelor dan seluruh Kevikepan Yogyakarta Timur semakin diteguhkan untuk menjadi gereja kecil yang hidup, penuh kasih, dan membawa terang bagi dunia.

