KELOR – Sukacita iman menyelimuti umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor. Tepat pada hari Minggu, 28 Juni 2026, umat berkumpul merayakan Pesta Nama Santo Pelindung sekaligus memperingati Lustrum ke-4 (20 tahun) berdirinya paroki. Perayaan agung ini menjadi momentum refleksi katekese yang mendalam, sekaligus perwujudan nyata dari Arah Dasar (ARDAS) KAS IX untuk menjadi Gereja yang menginspirasi, bahagia, dan menyejahterakan.

Misa Syukur Bersama Romo Vikep Yogyakarta Berlangsung Khidmat
Perayaan iman ini diawali dengan Misa Syukur yang dimulai pukul 08.00 WIB. Misa dipimpin langsung oleh Romo Kevikapan Yogyakarta Timur, Romo Adrianus Maradiyo, Pr berkonseleberasi dengan Romo Paroki Kelor Markus Januharka, Pr dan Romo Christophorus Sutrasno Purwanto, Pr.

Dalam perayaan ini, umat diajak meneladani ketokohan Santo Petrus dan Paulus. Sebagai pilar Gereja, Petrus mengajarkan kita tentang keteguhan iman pasca-pertobatan, sedangkan Paulus menginspirasi kita tentang keberanian mewartakan Injil tanpa kenal lelah. Semangat berapi-api dari kedua santo pelindung inilah yang membakar tema Lustrum ke-4 Paroki Kelor: “Murub Menyala”.
Dalam khotbahnya (homili), Romo Maradiyo memberikan pesan pastoral yang sangat kuat dan relevan dengan tantangan zaman saat ini. Beliau menekankan pentingnya menjaga benteng pertahanan iman Katolik melalui keluarga.
“Semangat ‘Murub Menyala’ di Paroki Kelor ini tidak boleh meredup, melainkan harus mampu membakar semangat seluruh umat untuk memberikan perhatian ekstra kepada keluarga muda dan sekolah-sekolah Katolik. Di tengah arus zaman yang kian menantang, di sinilah tempat iman anak-anak kita ditempa agar tetap berkembang dan mengakar kuat,” tegas Romo Maradiyo.
Lebih lanjut, Romo Vikep Yogyakarta juga mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait dinamika sosial yang sedang melanda umat Katolik di Yogyakarta. Beliau menyoroti data internal mengenai tingginya angka permasalahan keluarga yang kerap berakhir pahit.

“Peran orang tua dalam mendidik anak-anak sangatlah krusial dan tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Saya merasa prihatin melihat data saat ini, di mana banyak sekali masalah yang menimpa keluarga-keluarga Katolik di Yogyakarta hingga berujung pada perceraian. Mari kita jaga sakramen perkawinan kita. Keluarga muda harus didampingi, dan lembaga pendidikan Katolik harus kita dukung bersama sebagai rekan kerja utama orang tua dalam mendidik generasi penerus Gereja,” pesan beliau dengan penuh kasih.
Sebelum berkat penutup, suasana haru dan syukur terasa saat prosesi pemotongan tumpeng. Romo Maradiyo menyerahkan potongan tumpeng kepada perwakilan Keluarga Muda dan Orang Muda Katolik (OMK). Tindakan simbolis ini menegaskan fokus pastoral paroki, bahwa masa depan iman dan keberlanjutan Gereja berada di tangan generasi muda.
Setetes Darahmu Dapat Menyelamatkan Sesama
Katekese tidak hanya berhenti di dalam altar, melainkan diwujudkan dalam tindakan kasih nyata (caritas). Seusai misa, rangkaian aksi sosial langsung digelar di lingkungan sekitar gereja. Kegiatan kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Tim Pelayanan Kesehatan Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor ini menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) dan para Tenaga Kesehatan (Nakes) dari Rumah Sakit Panti Rahayu.
Donor Darah dan Cek Golongan Darah ini berlokasi di Pendopo Santo Matius Kelor. Animo umat cukup antusias yang terbukti dengan antrian yang panjang namun tetap tertib. Prosedur pelaksanaan donor darah diawali dengan mengisi data di formulir yang disediakan, cek tekanan darah, atau tensi, cek HB dan dilanjutkan pengambilan darah jika lolos cek kesehatan sebanyak 350 ml per kantong darah. Yang boleh melakukan donor darah adalah orang dewasa usia 18 tahun dan dinyatakan sehat.

Dalam kegiatan sosial ini juga ada pemeriksaan gratis bagi umat yang belum mengetahui golongan darahnya. Hal ini menjadi bukti nyata kepedulian paroki terhadap sesama yang membutuhkan kantong darah kehidupan.

Ekspo UMKM Paroki Kelor Turut Menggerakkan Roda Ekonomi dan Kesejahteraan Umat
Sesuai dengan mandat ARDAS IX untuk mewujudkan Gereja yang menyejahterakan, area sebelah barat parkir Gereja Kelor disulap menjadi pusat Ekspo UMKM. Para pelaku usaha lokal dari berbagai wilayah di Paroki Kelor menjajakan aneka kuliner dan produk berupa :
- Menu Kuliner Populer: Tersedia berbagai olahan masakan mulai dari B1, B2, ayam, hingga jamur, dan lain-lain
- Minuman Khas Paroki: Umat dimanjakan dengan kesegaran Kopi Latte Romo Kawula, Cendol Kawula Pidatos, hingga hangatnya wedang sereh, dan lain sebagainya
- Pernak pernik assesoris juga dijual dalam pameran UMKM ini.

Animo umat yang membludak harapannya dapat membuat perputaran roda ekonomi lokal berjalan sangat sukses, serta dapatmempererat persaudaraan antar umat Paroki Kelor.

Pentas Seni dan Apresiasi Iman, Dari Anak TK hingga Lomba Pasio
Kemeriahan perayaan semakin lengkap dengan panggung pentas seni yang dipelopori oleh Bapak Udi (owner Hugo Violin Music School). Alunan musik dan penampilan seni menghibur seluruh umat yang hadir memberikan kemeriahan tersendiri. Umat dapat berbelanja sambil menikmati alunan musik dan tarian yang menggema.

- Penampilan Anak-Anak: Siswa-siswi dari TK Theresia Kelor tampil menggemaskan saat menyanyi bersama dan menari di atas panggung. Ini menjadi bukti dukungan paroki terhadap eksistensi Sekolah Katolik setempat.
- Performance musik dan nyanyian persembahan dari Les Musik Hugo Violin

- Kaum muda mempersembahkan tarian yang memikat hati

- Penghargaan Lomba Pasio: Pada kesempatan ini, panitia mengumumkan pemenang dan menyerahkan hadiah kepada para peserta Lomba Pasio yang telah dilaksanakan pada ibadat Jumat Agung lalu dari berbagai wilayah.

- Sembako KLMTD: Di tengah kemeriahan ekspo UMKM dan pentas seni, paroki Kelor tetap menunjukkan keberpihakannya pada kaum miskin dengan membagikan paket sembako kepada umat yang Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel (KLMTD).
Menjaga Api Iman Tetap “Murub Menyala”
Melalui momentum 20 tahun Paroki Kelor berdiri, kita diingatkan kembali akan esensi katekese keluarga. Keluarga muda adalah “Gereja Domestik” (Ecclesia Domestica), tempat pertama di mana benih iman Katolik ditaburkan dan ditumbuhkan.
Dukungan penuh terhadap Sekolah Katolik seperti TK Theresia, SD Kanisius Wonosari Jurangjero, SMP Sanjaya, dan SMK Sanjaya Ngawen juga menjadi pilar penting agar pendidikan moral dan iman anak-anak kita tetap terjaga di era modern.
Semoga semangat “Murub Menyala” senantiasa membakar hati umat Paroki Kelor. Mari kita buka hati untuk terus mendorong kaum muda, mendampingi keluarga muda, dan memajukan Sekolah Katolik agar semakin berkembang dan maju dalam mewartakan iman Kristiani. Selamat Hari Raya Santo Petrus dan Paulus! Selamat Lustrum ke-4 Paroki Kelor! Berkah Dalem.

