
PAROKI KELOR – Pembinaan iman dan karakter sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting dalam mendampingi anak-anak dan remaja menghadapi berbagai tantangan zaman. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Misa dan Sarasehan Pelajar yang diselenggarakan oleh Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor pada hari Jumat, tanggal 11 September dan 16 Oktober 2026.
Kegiatan yang diikuti para pelajar dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah Paroki Kelor ini menjadi ruang untuk memperdalam iman Katolik, membangun karakter, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya mencegah kenakalan remaja.
Melalui perayaan Ekaristi dan sarasehan, para pelajar diajak memahami bahwa pertumbuhan iman tidak hanya diwujudkan melalui doa dan ibadah, tetapi juga melalui sikap, perkataan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Diawali dengan Misa, Menguatkan Iman Para Pelajar
Rangkaian kegiatan Misa dan Sarasehan Pelajar dilaksanakan dalam dua kesempatan. Kegiatan pertama berlangsung pada Jumat, 11 September 2026, mulai pukul 09.30 WIB di Gereja Santo Petrus dan Paulus Kelor. Kegiatan berikutnya diselenggarakan pada Jumat, 16 Oktober 2026, mulai pukul 11.30 WIB di Kapel Santo Mikael Semin.
Kedua kegiatan diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Paroki Kelor, Markus Januharka, Pr. Perayaan Ekaristi menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus mempersiapkan hati sebelum mengikuti sesi sarasehan.
Di tengah kesibukan belajar dan berbagai aktivitas sehari-hari, kegiatan ini mengingatkan para pelajar bahwa kehidupan rohani juga membutuhkan perhatian. Iman yang bertumbuh diharapkan menjadi bekal bagi mereka dalam menentukan pilihan, menghadapi tekanan lingkungan, serta membangun relasi yang baik dengan keluarga dan teman sebaya.
Usai misa, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan yang dipandu oleh Bapak FX Sukartana, Penyuluh Agama Katolik di Kementrian Agama (KEMENAG) Gunungkidul. Dalam sesi ini, para pelajar diajak mendalami persoalan kenakalan remaja dari sudut pandang Gereja Katolik, termasuk pentingnya pembentukan karakter, penguatan hati nurani, serta pendampingan yang penuh kasih.

Masa Remaja dan Tantangan dalam Pencarian Jati Diri
Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju kedewasaan. Pada tahap ini, seseorang mengalami banyak perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun dalam cara berpikir. Keinginan untuk mengenali diri sendiri, memperoleh pengakuan dari lingkungan, dan diterima oleh teman sebaya sering kali menjadi bagian dari proses tersebut.
Dalam proses pencarian jati diri ini, anak-anak dan remaja dapat menghadapi berbagai pengaruh yang tidak selalu membawa dampak positif. Lingkungan pergaulan, tekanan teman sebaya, kondisi keluarga, hingga media sosial dapat mempengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak.
Karena itu, kenakalan remaja tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan pelanggaran aturan. Di balik perilaku yang menyimpang, bisa terdapat persoalan pembentukan karakter, lemahnya pengendalian diri, kurangnya komunikasi, atau kebutuhan akan perhatian dan pendampingan.
Dalam materi sarasehan, dijelaskan bahwa Gereja Katolik memandang setiap manusia memiliki martabat luhur karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah atau Imago Dei. Oleh sebab itu, tindakan seperti kekerasan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan yang tidak bertanggung jawab, dan perilaku destruktif lainnya perlu dicegah karena dapat merusak diri sendiri maupun relasi dengan sesama.
Meski demikian, Gereja tidak memandang anak-anak dan remaja yang melakukan kesalahan sebagai pribadi yang tidak memiliki harapan. Mereka adalah pribadi yang sedang bertumbuh dan membutuhkan arahan agar mampu mengenali kesalahan, memperbaiki diri, serta mengambil keputusan yang lebih baik.
Pesan ini menjadi penting agar para pelajar tidak hanya memahami akibat dari perilaku negatif, tetapi juga menyadari bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan berubah.

Membentuk Hati Nurani dan Belajar Memilih yang Baik
Salah satu hal penting yang ditekankan dalam sarasehan adalah pembentukan hati nurani. Hati nurani membantu seseorang membedakan tindakan yang baik dan buruk serta mempertimbangkan akibat dari keputusan yang diambil.
Dalam kehidupan sehari-hari, pelajar menghadapi banyak pilihan. Mereka dapat memilih untuk mengikuti ajakan teman yang positif atau justru terbawa pada perilaku yang merugikan. Mereka juga dapat memilih untuk menggunakan media sosial secara bijak atau terlibat dalam tindakan yang menyakiti orang lain.
Kemampuan mengambil keputusan yang baik tidak terbentuk dalam satu malam. Proses tersebut membutuhkan pembiasaan, keteladanan, pendidikan nilai, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, para pelajar diajak untuk belajar bertanggung jawab atas tindakan mereka. Ketika melakukan kesalahan, mereka perlu berani mengakuinya, memahami dampaknya, dan berusaha memperbaikinya.
Pembentukan karakter juga berarti belajar menghormati orang lain, mengendalikan emosi, menjaga perkataan, serta berani mengatakan tidak terhadap ajakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.
Dengan demikian, iman Katolik tidak berhenti pada pengetahuan tentang ajaran Gereja. Iman perlu diwujudkan melalui pilihan hidup yang mencerminkan kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

Kasih Kristus Tegas terhadap Kesalahan, Tetap Merangkul
Dalam menghadapi kenakalan remaja, Gereja Katolik mengedepankan pendekatan yang meneladani kasih Yesus Kristus. Pendekatan ini tidak berarti membenarkan setiap perilaku yang salah, melainkan mengajak setiap orang untuk memperbaiki kesalahan tanpa kehilangan penghargaan terhadap martabat manusia.
Salah satu landasan yang disampaikan dalam materi sarasehan adalah kisah Yesus yang berjumpa dengan perempuan yang kedapatan berbuat dosa.
Dalam Injil Yohanes 8:11, Yesus berkata, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Pesan tersebut menunjukkan bahwa belas kasih dan ajakan untuk berubah berjalan beriringan. Yesus tidak membenarkan dosa, tetapi memberikan kesempatan bagi manusia untuk bertobat dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Prinsip ini relevan dalam mendampingi anak-anak dan remaja. Ketika mereka melakukan kesalahan, teguran dan konsekuensi tetap diperlukan. Namun, teguran sebaiknya disampaikan dengan cara yang mendidik, bukan dengan penghinaan atau penghakiman yang membuat mereka merasa tidak lagi memiliki kesempatan untuk berubah.
Anak-anak dan remaja perlu dibantu untuk memahami kesalahan sekaligus menemukan jalan keluar. Mereka membutuhkan orang dewasa yang bersedia mendengarkan, memberikan teladan, dan mendampingi proses perubahan mereka.

Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga
Sarasehan juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah kenakalan remaja. Dalam Gereja Katolik, keluarga disebut sebagai Ecclesia Domestica atau Gereja Rumah Tangga.
Keluarga menjadi tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar mengenal Tuhan, memahami kasih, membangun kebiasaan baik, dan menghormati sesama. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan melalui nasihat, tetapi terutama melalui teladan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Keharmonisan keluarga dan komunikasi yang terbuka menjadi fondasi penting bagi perkembangan anak. Ketika anak merasa aman untuk bercerita, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi, termasuk tekanan pergaulan, konflik dengan teman, atau pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman.
Sebaliknya, komunikasi yang tertutup dapat membuat anak merasa sendirian ketika menghadapi masalah. Karena itu, pendampingan tidak cukup dilakukan dengan memberikan larangan, tetapi juga perlu disertai kesediaan untuk mendengarkan dan memahami.
Orang tua diharapkan dapat menjadi teladan dalam mengelola emosi, menyelesaikan konflik, menggunakan media sosial secara bijak, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Melalui kebiasaan sederhana tersebut, anak-anak belajar bahwa nilai iman dapat diterapkan secara nyata di rumah.

Gereja Menjadi Ruang Bertumbuh bagi Anak dan Remaja
Selain keluarga, Gereja memiliki peran penting dalam menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan iman dan karakter anak-anak serta kaum muda.
Wadah pembinaan seperti Remaja Katolik (REKAT), Bina Iman Remaja (BIR), dan Orang Muda Katolik (OMK) dapat menjadi ruang untuk memperdalam iman, membangun persaudaraan yang sehat, serta mengembangkan bakat dan kreativitas.
Melalui kegiatan bersama, pelayanan, pendalaman iman, dan aktivitas positif lainnya, anak-anak dan kaum muda memiliki kesempatan untuk belajar bekerja sama, bertanggung jawab, serta mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
Keterlibatan dalam kegiatan masyarakat, seperti Karang Taruna, juga dapat menjadi sarana untuk belajar berorganisasi dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama. Dengan terlibat secara aktif, kaum muda dapat menyalurkan energi dan potensinya untuk kegiatan yang bermanfaat bagi sesama.
Gereja diharapkan bukan hanya menjadi tempat untuk beribadah, melainkan juga rumah bagi anak-anak dan kaum muda untuk bertumbuh, menemukan potensi diri, membangun persahabatan yang sehat, serta belajar menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan.
Pendampingan yang berkelanjutan akan membantu mereka menyadari bahwa setiap talenta yang dimiliki dapat dikembangkan dan digunakan untuk melayani Tuhan serta sesama.

Sakramen Tobat, Jalan untuk Memulai Kembali
Dalam perjalanan pertumbuhan iman, setiap orang dapat melakukan kesalahan. Namun, kesalahan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan seseorang untuk menjadi lebih baik.
Melalui Sakramen Rekonsiliasi atau Sakramen Tobat, Gereja Katolik menyediakan kesempatan bagi umat untuk mengalami pengampunan Allah, berdamai dengan-Nya, dan memperbarui komitmen untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran Kristus.
Bagi anak-anak dan remaja, Sakramen Tobat menjadi pengingat bahwa keberanian mengakui kesalahan merupakan bagian penting dari pertumbuhan iman. Pertobatan tidak hanya berarti menyesali tindakan yang telah dilakukan, tetapi juga berusaha memperbaiki akibatnya dan menghindari pengulangan kesalahan yang sama.
Pemahaman ini diharapkan menumbuhkan sikap rendah hati, tanggung jawab, dan harapan. Ketika jatuh dalam kesalahan, para pelajar diajak untuk tidak menyerah atau menutup diri, melainkan berani mencari pertolongan dan mengambil langkah untuk berubah.

Menjadi Pelajar Katolik yang Beriman dan Bertanggung Jawab
Misa dan Sarasehan Pelajar Paroki Kelor menjadi pengingat bahwa pencegahan kenakalan remaja merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, Gereja, sekolah, dan masyarakat perlu bekerja sama menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak-anak dan remaja.
Kenakalan remaja bukan semata-mata persoalan pelanggaran, melainkan juga persoalan pembentukan karakter dan pendampingan. Karena itu, langkah yang diperlukan bukan hanya menegur ketika terjadi kesalahan, tetapi juga membangun kebiasaan baik, memperkuat iman, dan menyediakan ruang yang aman bagi anak-anak untuk bertumbuh.
Melalui kegiatan ini, para pelajar diajak untuk semakin mengenal nilai-nilai iman Katolik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka diharapkan mampu menghargai diri sendiri, menghormati orang lain, memilih pergaulan yang sehat, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, serta berani menolak tindakan yang merugikan.
Pada akhirnya, menjadi pelajar Katolik bukan hanya tentang mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi juga tentang menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan nyata. Dengan hati nurani yang terus dibentuk, dukungan keluarga, dan pendampingan Gereja, anak-anak dan remaja diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang matang dalam iman, kuat dalam karakter, dan mampu membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
Sebab, setiap anak dan remaja memiliki kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Tugas bersama keluarga dan Gereja adalah menemani perjalanan itu dengan kasih, keteladanan, dan harapan. Berkah Dalem.

