Katakese Rabu Abu
Tak terasa, sebentar lagi umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor khususnya, dan seluruh umat Katolik di dunia akan memasuki masa Prapaskah yang diawali dengan Perayaan Ekaristi Rabu Abu. Sesuai dengan tradisi Gereja Katolik, Rabu Abu menjadi penanda umat Katolik dalam menjalani retret agung selama 40 hari dalam memperingati kisah sengsara Yesus, disalibkan, wafat hingga kebangkitan_nya.
Namun, sebagai umat Katolik sejati, apakah kita sudah benar-benar memahami makna katakese dibalik Rabu Abu? Mari kita renungkan bersama katakese Rabu Abu yang ditulis oleh Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor Romo Markus Januharka, Pr.
Apakah Rabu Abu itu?
Secara umum, perayaan Rabu Abu dalam tradisi Gereja Katolik, adalah saat dimana kita membuka dan memulai masa Prapaskah, mengawali 40 hari retret agung atau gladi latihan rohani dalam langkah laku pertobatan memantaskan diri menyambut perayaan Agung Hari Raya Paskah kebangkitan Tuhan.
Gladi latihan rohani selama 40 hari masa Prapaskah sebagai wujud dan ungkapan penyangkalan diri dan pertobatan itu. Kita menjalankan melalui puasa dan pantang, doa dan sedekah atau berderma seturut ajaran Yesus di Injil Matius 6, dilakukan dengan tersembunyi dan tidak seperti orang munafik.
Lalu mengapa hari awal masa Prapaskah ini dijatuhkan di hari Rabu? Bukan di hari lain?
Sebab jika kita menghitung mundur, 40 hari dari Hari Raya Paskah tidak termasuk menghitung hari-hari Minggunya, akan jatuh di hari Rabu. Rabu Abu ini.
Angka 40 ini juga melambangkan perjalanan bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun dan juga puasa Tuhan Yesus selama 40 hari, maka gladi latihan rohani kita pun juga kita jalankan selama 40 hari.
Mengapa menggunakan abu ?
Sebab menurut Alkitab, Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Dalam Alkitab, tercatat cara untuk mengungkapkan kedukaan atas dosa dilakukan dengan menaburkan abu di kepala atau duduk di atas abu. Maka Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat.
Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3:6).
Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13).
Dalam melambangkan kefanaan-ketidak abadian manusia, abu disejajarkan dengan debu, yang mana dari debu tanahlah Allah menciptakan manusia. Maka jika kita melihat kembali kisah Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian, kita bisa menemukan RABU ABU PERTAMA yang dialami Adam dan Hawa di taman Eden, saat mereka jatuh pertama kali ke dalam dosa dan dibawa ke dalam penyesalan dosa. Tuhan pun mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu.
Oleh karena itu, imam atau prodiakon saat membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata: “Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”
Darimanakah abu yang digunakan untuk perayaan RABU ABU itu ?
Perayaan Rabu abu, tidak bisa dipisahkan dari perayaan Minggu Palma di tahun sebelumnya. Sebab Abu yang digunakan pada Rabu Abu, berasal dari abu pembakaran daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.
Dalam ibadat pembakaran daun palma yang dilakukan sebelum hari Rabu Abu itu, saat membakar daun palma, juga melambangkan niat kita untuk membakar dan memusnahkan kebiasaan buruk dan kedosaan kita yang akan kita olah dalam langkah laku tobat dan penyesalan di masa prapaskah.
Jika Rabu Abu merupakan hari permulaan masa pra paskah, Minggu Palma adalah hari permulaan pekan suci, dan dalam perayaan kedua hari tersebut, kita diajak untuk ingat akan hakikat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang tidak abadi di dunia.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
Pada hari Rabu abu, abu diberkati, dan diperciki dengan air suci, kemudian ditempatkan di atas kepala dengan tanda salib, atau ditaburkan. Point penting yang harus diperhatikan adalah bahwa ABU ini diberkati, bukan dikonsekrir sebagaimana yang dibuat imam atas hosti dan anggur yang menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Artinya, abu yang digunakan pada hari Rabu Abu, bukanlah setara dengan Sakramen Maha kudus, karena hanya bersifat sebagai benda suci yang sudah diberkati, sama dengan saat kita mohon berkat dari Romo untuk rosario, Alkitab, Patung Yesus dan Maria, dan benda-benda lainnya yang ingin kita sucikan. Maka tentu kita harus memperlakukan Abu ini sesuai dengan karakternya yang bukanlah Sakramen Mahakudus, sehingga jangan terlalu memberikan hormat yang berlebihan.
Maka karena ABU ini bukanlah sakramen mahakudus dan hanya sebatas benda suci saja, Orang yang belum dibaptis -ataupun belum dibaptis secara Katolik- juga boleh menerima abu, pada perayaan Rabu Abu. KARENA Abu ini berfungsi dan dimaknai sebagai tanda pertobatan, sehingga dapat diberikan kepada semua orang, tanpa kecuali sejauh yang bersangkutan memaknai yang sama : peertobatan dan kefanaan manusiawi.
Selamat memasuki masa Prapaskah. Berkah Dalem.
