Ngawen, 8 Maret 2026 – Dalam semangat merayakan perjalanan iman dan pelayanan Gereja, Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Gunungkidul menyelenggarakan kegiatan Open House Sekolah Katolik yang bertempat di SMP Sanjaya Ngawen dan Asrama Santo Thomas Ngawen pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 14.00 WIB dan diikuti oleh para guru, ketua lingkungan, ketua wilayah, komite sekolah, tokoh masyarakat, tim pelayanan (timpel) paroki, serta Romo Paroki.
Kegiatan ini menjadi salah satu bagian dari rangkaian Lustrum ke-4 Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, sekaligus menjadi kesempatan berharga bagi umat Paroki Kelor untuk semakin mengenal karya pendidikan Katolik yang telah hadir dan melayani di wilayah Ngawen, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menyapa Karya Pendidikan Katolik
Open House ini juga merupakan tindak lanjut dari kegiatan katakese mengenai hasil Sinode Pendidikan yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang pada minggu sebelumnya. Dalam semangat sinodalitas, umat diajak untuk tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana karya pendidikan Katolik dijalankan.
Para peserta diajak berkeliling atau room tour untuk melihat lingkungan sekolah, ruang-ruang belajar, serta fasilitas yang dimiliki. Melalui kunjungan ini, umat semakin memahami bahwa sekolah Katolik bukan sekadar tempat belajar akademik, tetapi juga tempat bertumbuhnya iman, karakter, dan nilai-nilai kehidupan.

SMP Sanjaya Ngawen : Pendidikan Berkualitas dan Berkarakter
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga mendapat gambaran mengenai perkembangan dan kondisi terkini di SMP Sanjaya Ngawen. Sekolah ini memiliki tenaga pendidik yang berkualitas, di mana seluruh guru telah berpendidikan S1, bahkan sebagian telah melanjutkan hingga jenjang S2. Sekitar 80 persen guru juga telah memiliki sertifikasi pendidik, yang menunjukkan komitmen sekolah untuk memberikan pendidikan yang profesional.
Dari segi fasilitas, sekolah ini juga telah dilengkapi dengan berbagai sarana penunjang pembelajaran, seperti laboratorium IPA, laboratorium komputer, serta perpustakaan. Lingkungan sekolah yang berada di lokasi strategis dan dekat dengan berbagai fasilitas umum juga menjadi salah satu keunggulan tersendiri.

Yang tidak kalah penting, identitas Katolik terasa kuat dalam kehidupan sekolah. Kedekatan dengan gereja dan komunitas umat menjadikan sekolah ini sebagai tempat yang subur bagi pertumbuhan iman sekaligus pembentukan karakter para siswa.
Sekolah ini juga terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama maupun sosial. Semangat pelayanan dan keterbukaan ini menjadi wujud nyata dari panggilan Gereja untuk melayani semua orang. Para guru pendidik di sekolah inipun tidak semuanya beragama Katolik, ada pula yang memiliki keyakinan lain.
Namun di balik berbagai potensi tersebut, terdapat pula keprihatinan bersama. Saat ini jumlah peserta didik masih terbatas, dan terdapat kecenderungan sebagian umat Katolik yang belum memilih sekolah Katolik sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak mereka. Oleh karena itu, dukungan umat sangat diharapkan agar karya pendidikan ini dapat terus bertumbuh dan berkembang.

Asrama Santo Thomas Ngawen : Rumah Pembinaan Karakter
Setelah mengunjungi sekolah, rombongan juga diajak melihat kehidupan para siswa yang tinggal di Panti Asuhan atau Asrama Santo Thomas Ngawen. Saat ini asrama tersebut menampung sekitar 135 anak putra dan putri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatra, Mentawai, Nusa Tenggara Timur, dan daerah lainnya.
Para siswa ini menempuh pendidikan di SMP maupun SMK Sanjaya Ngawen. Di asrama ini mereka tidak hanya tinggal, tetapi juga dibina untuk menjalani kehidupan yang disiplin, tertib, dan penuh tanggung jawab.
Setiap hari mereka menjalani rutinitas yang teratur. Hari dimulai sangat pagi, sekitar pukul 03.15, dilanjutkan dengan mandi pagi, doa pagi, dan piket. Setelah itu mereka mengikuti Misa harian, sarapan, lalu berangkat ke sekolah. Piket dilakukan oleh para siswa di asrama dengan kegiatan bersih-bersih dan membantu memasak makanan untuk makan bersama seluruh penghuni panti asuhan.

Sepulang sekolah, kegiatan dilanjutkan dengan doa Koronka, piket sore, kegiatan MCK, doa Rosario, makan malam, dan belajar malam sebelum akhirnya beristirahat.
Pada hari Sabtu malam, anak-anak mendapatkan waktu rekreasi dari pukul 18.30 hingga 20.30 sebagai kesempatan untuk beristirahat dan membangun kebersamaan.
Kehidupan di asrama juga melatih mereka untuk hidup mandiri. Para siswa terbiasa mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, melakukan piket kebersihan, bahkan ada jadwal piket memasak. Semua ini menjadi bagian dari proses pembentukan karakter agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Harapan bagi Masa Depan
Melalui kegiatan open house ini, umat semakin disadarkan bahwa karya pendidikan Katolik adalah bagian penting dari perutusan Gereja. Sekolah dan asrama bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat tumbuhnya nilai-nilai iman, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Semoga karya pendidikan yang dijalankan oleh SMP Sanjaya Ngawen bersama Asrama Santo Thomas Ngawen dapat terus berkembang dan menghasilkan generasi muda yang berkarakter, mandiri, serta siap menjadi berkat bagi sesama, Gereja, nusa, dan bangsa.

Dalam semangat pelayanan yang tidak kenal lelah, kiranya Tuhan senantiasa menyertai para pendidik, para pengelola asrama, serta semua pihak yang terlibat dalam karya mulia ini.
Semoga benih-benih kebaikan yang ditanam hari ini kelak berbuah bagi masa depan Gereja dan bangsa. Amin. Berkah Dalem.

