SEJARAH PAROKI SANTO PETRUS & PAULUS KEOR
Periode Sebelum Menjadi Paroki (1932 – 2006)
Awal Penaburan Benih Iman Katolik (1932 – 1967)
Masuknya agama katolik di daerah Gunungkidul bagian Timur – Timur laut dan Utara bisa dibagi menjadi dua bagian besar yaitu di bagian Timur yang meliputi Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Semanu serta di bagian utara meliputi Kecamatan Semin dan Kecamatan Ngawen. Di Kecamatan Karangmojo dan Kecamatan Ponjong, yang saat ini terdapat tiga Wilayah: Kelor, Jaranmati dan Wiladeg diawali dengan datangnya seorang pemuda Bernama Tarsisius Karim, yang berasal dari Semanu, Gunungkidul, yang mendapat tugas dari Yayasan Kanisius Semarang untuk mendirikan Sekolah Rakyat (SR) Kanisius di Kelor,
yang saat itu sebagian penduduknya masih buta huruf. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi karena hanya anak-anak perangkat desa sajalah yang diijinkan bersekolah oleh penjajah Belanda.
Bapak Tarsisius Karim di kemudian hari menikah dengan seorang gadis bernama ibu Tarsisia Mubingah berasal dari desa Kelor yang kemudian dikenal bernama Bapak Darmo Suprapto (Mbah Darmo). Bapak Darmo Suprapto dikaruniai dua anak, yakni Theresia Sukartinah dan Robertus Sumaryanto. Meski sudah berkeluarga, dia tetap memiliki semangat yang menggelora untuk mengabdi kepada Tuhan lewat pelayanan kasih kepada sesama terutama dalam dunia pendidikan sekolah dasar.
Selain sebagai guru, waktu-waktu yang lain ia pergunakan untuk mewartakan Injil dan menaburkan benih-benih Iman Katolik di pedukuhan Kelor dan sekitarnya. Cara yang dia tempuh sangat sederhana, menyesuaikan dengan orang-orang yang dijumpainya. Apa yang disampaikannya rupa-rupanya menarik perhatian. Mereka yang setiap saat mendengar cerita Pak Darma mengungkapkan niatnya menjadi Katolik. Beberapa diantara “murid-murid” Pak Darma tersebut akhirnya dibaptis pada tanggal 7 Mei 1939 oleh Rm. Strater, SJ. Tiga orang baptisan pertama adalah Yohanes Sadoen (LB I No. 265), Aloysius Satijan (LB I No. 266) dan Zakarias Karsaikrama (LB I No. 267). Mereka semua tercatat dalam buku baptis Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari.
Kegiatan-kegiatan terutama doa bersama tidak pernah berhenti. Seminggu sekali umat diajak berdoa. Kegiatan seperti ini dipusatkan di rumah Pak Darma namun kalau hari Minggu umat merayakan Ekaristi di Wonosari. Karena jumlah umat semakin bertambah dan rumah Pak Darma semakin tidak mampu menampung umat maka dipikirkan untuk membuat tempat khusus (kapel).
Tahun 1972 mulai dirintis pembangunan sebuah kapel di desa Kelor di atas tanah seluas 4.000 m2 seharga Rp 280.000, – (red: tanah ini menjadi tanah pekarangan gereja sekarang). Melihat perkembangan umat yang semakin hari semakin bertambah maka mulai dipikirkan juga untuk merehab bangunan Gereja. Berkat usaha gigih dari Bruder Kirjo Utomo, SJ bersama umat maka pada tahun 1990 Gereja direnovasi dan berdiri sampai sekarang.
Dalam kurun waktu yang kurang lebih bersamaan, sekitar tahun 1930 di bagian Timur Laut Gunungkidul, tepatnya di Kecamatan Ngawen, datang pula Bapak Ignasius Harjo Sanjoyo, seorang pedagang berasal dari daerah Wedi, Klaten. Misi utamanya aAdalah berdagang, karena situasi dan kondisi pada tahun-tahun tersebut, khususnya di daerah Ngawen dan Semin masih menjadi daerah ‘jauh’ dengan Wonosari sehingga jalur perdagangan di daerah ini sebagian besar berhubungan dengan daerah Klaten yang pada perkembangan berikutnya bukan saja terjadi ‘dialog niaga’ tetapi juga ‘dialog agama / kepercayaan’. Dari dialog niaga tersebut membuahkan tumbuh dan berkembangnya perekonomian di kedua daerah tersebut dan menjadi simpul pertumbuhan ekonomi daerah Gunungkidul yang penting hingga sekarang karena letaknya yang strategis pada perlintasan jalur penting antara Gunungkidul dengan Solo, Wonogiri, Sukoharjo dan Klaten. Sedangkan dari ‘dialog agama dan kepercayaan’ kemudian tumbuhlah benih iman katolik di Ngawen (tahun 1930) yang kemudian menyebar ke barat di dusun Wonosari desa Jurangjero, dan ke timur – tenggara, yaitu Sambeng, Tobong, Logantung dan Semin. Khusus untuk daerah Semin, agama katolik semakin berkembang ketika tahun 1940 datang dan bertempat tinggal di Semin, bapak Michael Soepandi Broto Harjono, seorang pedagang yang tidak lain adalah putera Bapak Ignasius Harjo Sanjoyo di Ngawen. ……??
Benih Iman di Wilayah Candirejo berasal dari Keluarga Fransiskus Xaverius Harjo Suwito, Putri Bapak Fransiskus Xaverius Harjo Suwito yang pertama yang Bernama Warmilah dibaptis di Semarang sekitar tahun 1934, benih iman tersebut juga ditaburkan di keluarga saat pulang ke Candirejo, kemudian diikuti oleh adik-adiknya yakni Rukilah, Wakito, Sumarmo tetapi dibaptis di perantauan juga Orang tuanya Bapak Fransiskus Xaverius Harjo Suwito Sekalian Bahkan anak bungsu Fransiskus Xaverius Harjo Suwito yaitu Aloysius Sumarmo menjadi Bruder FIC). Umat di Candirejo selanjutnya banyak yang mengikuti panggilan iman yakni Maria Magdalena Mardilah, anak ketiga Bapak Fransiskus Xaverius Harjo Suwito, Rejo Sumarto, Kartonyono, Kertorejo. Kehadiran Bruder Petrus dari Sambeng selanjutnya mendampingi ke 4 orang tersebut. Tahun 1966 setelah peristiwa G 30 S hampir 200 orang dibaptis. Pusat Kegiatan di rumah Ibu Mardilah baru pada tahun 1975 mendirikan kapel ditanah yang diwakafkan keluarga Fransiskus Xaverius Harjo Suwito. Mulai tahun 1970an dilanjutkan oleh Bapak JA Tukiman seorang katekis dari Paroki Wonosari yang telah mendapat SK dari Uskup serta kemudian menikah dengan salah satu anak dari Bapak Fransiskus Xaverius Harjo Suwito. Sementara itu pada tahun 1952 di Sambeng datang Bapak Fransiskus Xaverius Margonosiswoyo, seorang guru SD yang berasal dari Wonosari, dan di tahun 1956 datang pula Bruder Petrus Suparno. Keduanya menjadi penerus penyebaran agama Katolik di daerah Sambeng sehingga berkembang sampai saat ini.
Sampai dengan tahun 1967 di daerah Timur Laut – Utara ini kemudian tumbuh tiga ‘Stasi’ yaitu Ngawen, Semin dan Sambeng. Ketiga stasi tersebut menjadi bagian dari Paroki Wedi dan baru kemudian pada tahun 1968 – 1969 ketiga stasi tersebut dimasukkan ke dalam wilayah Gerejawi paroki St. Petrus Kanisius Wonosari. Perkembangan berikutnya adalah di dusun Wonosari dimana pada tahun 1967 secara berkala mendapat ‘kunjungan’ dari seorang perangkat desa Jurangjero, yang telah menjadi katolik dan menjadi umat stasi Ngawen, juga membuahkan hasil dengan tumbuhnya agama katolik. Sejak itu umat semakin berkembang jumlahnya dan kemudian menjadi salah satu Kring dari stasi Ngawen. Pada tahun 1990 Kring Wonosari Jurangjero meningkat ‘status’ basis Gerejawinya menjadi stasi yang merupakan pemekaran dari stasi Ngawen.
Benih Iman yang Makin Berkembang dan Mengakar (1968 – 1997)
Mulai tahun 1968 seluruh stasi di bagian Timur – Timur Laut Gunungkidul yaitu Kelor, Jaranmati, Semin, Sambeng, Ngawen dan Wonosari telah menjadi satu kesatuan Gereja Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari. Benih-benih sabda yang ditabur Tuhan melalui para pendahulu menjadi pondasi tumbuh dan berkembangnya Gereja sampai saat ini. Umat di masing-masing tempat memiliki kenangan yang membanggakan bagaimana dan dengan siapa mereka merintis tumbuhnya Gereja. Pengalaman suka-duka, harapan dan kecemasan dalam mengembangkan iman, menempa kehidupan umat menjadi daya
dorong untuk bertekun melanjutkan perjuangan dengan kemampuan dan cara masingmasing. Apa yang dialami dan dirasakan itu mengendap cukup dalam di hati sanubari umat sehingga membentuk suatu generasi ‘Gereja Perdana’ yang kemudian menjadi suatu ‘panutan’ bahkan ‘idola’ umat masa kini dengan berbagai cerita perjuangannya.
Masa Perintisan (1990 – 1998)
Masa ini dapat dikatakan berlangsung tahun 1990-an dimana mulai tahun-tahun itu tata penggembalaan umat sudah lebih ‘maju’ dengan adanya pembagian wilayah Paroki Wonosari menjadi 3, yaitu Wilayah Tengah berpusat di Wonosari, Wilayah Barat berpusat di Bandung-Playen dan Wilayah Timur berpusat di Kelor. Wilayah-wilayah tersebut masing-masing memiliki kepengurusan yang lengkap, yang model dan bentuk strukturnya kurang lebih sama dan seragam.
Pembagian Paroki menjadi 3 wilayah tentu membawa konsekuensi yang besar dimana masing-masing Dewan Wilayah harus belajar mengelola dan mengurus wilayahnya guna mengembangkan Gereja melalui berbagai macam karya pelayanan. Dewan Wilayah Timur yang saat itu mengkoordinasi 6 stasi, dituntut semakin mengenal wilayahnya dan belajar memikirkan, merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pastoralnya meskipun tetap dalam perspektif ‘kesatuan’ dengan Paroki Wonosari. Salah satu yang paling jelas tampak adalah sentralisasi keuangan yang dipusatkan di Wonosari. Di balik itu semua terkandung harapan akan datangnya suatu masa ‘kemandirian’ dimana wilayahwilayah akan terpisah dan membangun dirinya sebagai wilayah yang mandiri atau bahkan paroki mandiri.
Harapan tersebut makin kuat ketika mulai tahun 1995 ada kebijakan Romo Paroki Wonosari yang menugaskan salah seorang pastor menjadi pendamping wilayah dalam menyelenggarakan reksa pastoralnya. Meskipun dalam ‘wewenang’ yang sangat terbatas tetapi kehadiran Romo Wilayah memberikan arahan dan dorongan dalam mengembangkan fungsi-fungsi pelayanan. Pada masa itulah Dewan Wilayah Timur dengan pendamping Rama Fransiskus Xaverius Widoyoko SJ, meletakkan ‘landasan’ jangka panjang dan strategi pencapaian untuk mempersiapkan sebuah paroki. Pola penggembalaan ini dikenal dengan nama Sistem Pengembangan Wilayah (SPW). Pola ini memandang wilayah sebagai suatu kesatuan sistem yang terdiri dari beberapa sub-sistem yang saling terkait, berinteraksi dan saling mempengaruhi. Adapun sub-sistem yang dimaksud adalah pembangunan jemaat, pembinaan teritorial, pembangunan sarana dan prasarana, pendanaan dan pengembangan organisasi.
Periode Menjadi Paroki
Paroki Administratif (1998 – 2006)
Tanggal 1 Januari 1998 adalah saat yang menentukan dan menjadi salah satu tonggak sejarah Paroki Kelor karena mulai saat itu bersama dengan Wilayah Barat, yaitu Bandung, Kelor ditetapkan sebagai Paroki Administratif. Hal ini ditandai dengan dimulainya adminisrasi Buku Baptis (LB II). Perjuangan Gereja Wilayah Timur semakin menemukan landasan yang kokoh untuk menatap masa depan yang lebih terang dalam karya dan pelayanan pastoralnya.
Meski sudah dikukuhkan sebagi Paroki Administratif perjuangan belumlah selesai. Perjuangan sebenarnya barulah dimulai ketika sebuah kepercayaan diletakkan diatas pundak umat dan Dewan Paroki. Pada saat itu Dewan Paroki mencoba merumuskan sebuah visi, yaitu “MENGGALANG PAGUYUBAN MERAIH KEDEWASAAN MENUJU KEMANDIRIAN” Visi ini dipilih dalam konteks situasi riil Paroki Administratif Kelor dimana umat sudah membentuk Gereja di enam Wilayah masingmasing dengan lokasi yang saling berjauhan. Visi tersebut juga diletakkan dalam kerangka menuju paroki mandiri. Pada periode ini Dewan Paroki mencoba belajar mengelola Gereja dengan mengacu pada pedoman dan arahan dari Keuskupan Agung Semarang.
Paroki Definitif (2006 – sekarang)
Untuk mempersiapkan kemandirian Paroki, pada tanggal 1 September 2005 diadakan pertemuan tiga Dewan Paroki, yaitu Kelor, Bandung, dan Wonosari. Pada waktu itu Dewan Paroki Kelor menyampaikan rencana untuk menuju pengukuhan paroki. Tanggapan dari Romo Paroki Wonosari, Dewan Paroki Wonosari dan Dewan Paroki Bandung pada prinsipnya mendukung rencana dan keinginan Dewan Paroki Kelor meski tetap ada harapan untuk tetap menjalin kerjasama satu sama lain.
Pada kesempatan wawanhati dengan Mgr. Ignatius Suharyo yang hadir di Kelor untuk menerimakan Sakramen Krisma tanggal 23 September 2005 Dewan Paroki Kelor menyampaikan beberapa informasi mengenai situasi umat dan Paroki Kelor serta maksud dan keinginan untuk dikukuhkan menjadi Paroki mandiri. Bapak Uskup mendukung dan merestui dengan memberikan catatan agar hal ini dibicarakan dengan paroki induk, yaitu Paroki Wonosari dan membuat surat permohonan ke KAS tentang Pengukuhan Paroki tersebut. Setelah proses terjadi selanjutnya menuggu persetujuan dan keputusan dari KAS.
Setelah mendengar saran dari Bapak Uskup, tanggal 26 Oktober 2005 Dewan Paroki Kelor mengadakan pertemuan dengan Dewan Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari dan Dewan Paroki Santo Yusup Bandung Playen. Hasil pertemuan tersebut disampaikan kepada Bapak Uskup dalam bentuk paparan dan permohonan pengukuhan Paroki. Bapak Uskup menanggapi dengan gembira hati. Romo Vikep DIY diberi
wewenang oleh Bapak Uskup untuk mendampingi proses kemandirian ini. Tanggal 17 Februari 2006 Dewan Paroki Kelor mengadakan pertemuan dengan Romo Bernadus Saryanto, Pr (Vikep DIY) membicarakan hal-hal yang perlu untuk kesiapan kemandirian Paroki. Tanggal itu juga Romo Paroki Kelor menghubungi Bapak Uskup menyampaikan hasil pertemuan dengan Romo Vikep dan Bapak Uskup memberi kesempatan kepada Dewan Paroki Kelor bertemu beliau untuk membicarakan langkahlangkah selanjutnya. Maka pada tanggal 15 Maret 2006 Dewan Paroki Kelor bertemu beliau di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut antara lain dibicarakan soal tanggal peresmian. Semula Dewan Paroki Kelor mengusulkan tanggal 29 Juni 2006 bertepatan dengan pesta pelindung Paroki, namun karena dirasa terlalu “mepet” waktunya akhirnya Bapak Uskup mengusulkan dan disepakati tanggal 2 Agustus 2006 Paroki Administratif Kelor akan diresmikan menjadi Paroki definitif.
Setelah ada keputusan untuk diresmikan, Dewan Paroki segera membentuk panitia peresmian. Dua agenda besar yang akan dilakukan, yaitu persiapan fisik dan “Persiapan Hati” bagi umat. Persiapan fisik meliputi pemasangan eternit Gereja dan pengecatan Gereja.
Sedangkan bentuk “Persiapan Hati” meliputi kunjungan Dewan Paroki dan panitia peresmian ke lingkungan-lingkungan dalam rangka sosialisasi, novena persiapan minggu berturut-turut mulai tanggal 4 Juni 2006 dan berakhir pada tanggal 30 Juli 2006. Persiapan terakhir adalah rekoleksi seluruh umat di lingkungan-lingkungan pada tanggal 26 – 29 Juli 2006. Rekoleksi ini didampingi oleh Frater–frater dari Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan.
Akhirnya, pada hari Rabu Legi 2 Agustus 2006 Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor diresmikan secara definitif dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Bapak Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo.
Dengan kemandirian ini tidak berarti bahwa peziarahan hidup umat Allah di Kelor akan berhenti. Masih banyak hal yang harus dikerjakan dan perjuangan yang harus dilalui demi Iman yang semakin teguh dan dewasa. Semua itu tentu dipersembahkan demi Kemuliaan Tuhan yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam). Pada saat pengukuhan paroki tersebut, umat paroki tercatat ada 944 KK terdiri dari 2.618 jiwa yang tersebar di 6 wilayah.
Peta Teritorial dan Letak Tempat Ibadah Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor
