
PAROKIKELOR.COM – Suasana penuh kehangatan, kebersamaan, dan rasa haru mewarnai pelataran Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor pada Sabtu malam (1/8/2026). Mulai pukul 19.00 WIB, sekitar 150 orang yang terdiri dari umat Katolik serta tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat berkumpul duduk bersama dalam acara Kenduri Lintas Iman.
Kegiatan yang sarat makna ini diselenggarakan sebagai salah satu agenda utama dalam rangkaian perayaan Lustrum Keempat Paroki Kelor yang genap berusia 20 tahun.
Tampak hadir dalam perhelatan tersebut perwakilan Bupati Gunungkidul, tokoh-tokoh lintas agama, Kapolsek, Koramil, perwakilan RS Panti Rahayu, Babinkamtibmas, Babinsa, Panewu Kapanewon Karangmojo, Lurah Kelor, jemaat GKJ Wiladeg, serta berbagai tokoh masyarakat setempat.
Kenduri Warisan Budaya Nusantara yang Menghidupi Kerukunan
Kenduri merupakan warisan budaya Nusantara yang kaya akan simbol dan nilai-nilai luhur. Di dalamnya terkandung makna rasa syukur, kebersamaan, persatuan, gotong royong, dan saling menghormati.
Malam itu, seluruh elemen masyarakat duduk sejajar tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun latar belakang sosial. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa di Kelor, kerukunan umat beragama bukanlah sekadar slogan manis di atas kertas, melainkan nilai yang benar-benar dihidupi dalam dinamika keseharian masyarakat.

Momen Haru saat Doa 5 Agama Dilantunkan Bergantian
Suasana berubah begitu khidmat dan menyentuh hati tatkala sesi doa dimulai. Secara bergantian, lima tokoh dari agama yang berbeda memimpin doa dengan tata cara dan tradisi kepercayaan masing-masing:
- Agama Katolik: Dipimpin oleh Romo Sutrasno, Pr
- Agama Islam: Dipimpin oleh Ustadz Wahyu A. Syukuri
- Agama Kristen: Dipimpin oleh Pendeta Wahyu
- Agama Hindu: Dipimpin oleh Bapak Jro Gedhe Triman
- Agama Buddha: Dipimpin oleh Bhante Bhadra Pallo
Alunan doa yang dipanjatkan secara bergantian menghadirkan keheningan yang dalam. Setiap bait doa yang terucap melambungkan harapan yang sama: kedamaian, kesejahteraan, serta perlindungan Tuhan bagi seluruh warga Gunungkidul dan Indonesia. Serta khususnya memanjatkan doa agar acara puncak lustrum keesokan harinya dapat berjalan dengan lancar dan menjadi berkat bagi sesama.

Makna Tema Lustrum IV: (M)urub (Me)nyala
Perayaan Lustrum Keempat Paroki Kelor mengusung tema “(M)urub (Me)nyala”. Tema ini mengandung pesan spiritual yang mendalam bagi seluruh umat.
Secara filosofis, M(u)rub (Me)nyala mengisyaratkan bahwa semangat iman Katolik harus senantiasa menyala dan tidak boleh redup. Nyala api iman ini diharapkan mampu memberikan kehangatan bagi sesama dan lingkungan sekitar yaitu sebuah nyala yang menyejukkan dan merangkul, bukan api egoisme yang membakar dan merusak persatuan.
Melalui perayaan Kenduri Lintas Iman ini, Paroki Kelor kembali menegaskan komitmennya untuk terus menjadi sarana kesaksian iman yang membawa terang, kehangatan, dan kedamaian di tengah masyarakat. Berkah Dalem.

