Kelor, Gunungkidul – Lektor Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor mengikuti acara Katakese Lektor bertema “Mateng Ing Basa, Mentes Ing Warta” guna meningkatkan kemampuan pewartaan Sabda Allah dalam Bahasa Jawa dan memperdalam spiritualitas pelayanan. Semangat nguri-uri kabudayan Jawa sekaligus memperdalam pelayanan liturgi tampak dalam Pertemuan Lektor Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor yang diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 10 Mei 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB ini berlangsung di Pendopo Santo Matius Kelor yang berada di sisi selatan Gereja Paroki Kelor.
Tema tersebut menegaskan pentingnya kematangan dalam berbahasa dan ketepatan dalam menyampaikan Sabda Allah. Dalam konteks Paroki Kelor yang masih secara konsisten mempertahankan tradisi perayaan Ekaristi menggunakan Bahasa Jawa beberapa kali dalam sebulan, kemampuan membaca Kitab Suci dalam Bahasa Jawa menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi para lektor.
Pertemuan ini dihadiri oleh para lektor Paroki Kelor, para calon penerima Sakramen Penguatan yang akan menerima sakramen dari Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang pada 2 Agustus 2026, serta Kepala Bidang Liturgi Paroki. Hadir sebagai narasumber, Bapak Sigit yang secara khusus memberikan materi mengenai aksen dan pengucapan Bahasa Jawa dalam pembacaan Kitab Suci.

Dalam pemaparannya, Pak Sigit menjelaskan bahwa membaca teks Kitab Suci dalam Bahasa Jawa tidaklah sesederhana membaca teks biasa. Banyak tantangan yang sering muncul, mulai dari pelafalan vokal dan konsonan yang kurang tepat, penempatan tekanan kata yang keliru, hingga kurangnya pemahaman terhadap makna kalimat yang dibacakan. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat memengaruhi penyampaian pesan Sabda Allah kepada umat.
Materi ini menjadi semakin relevan di tengah perkembangan zaman ketika generasi muda semakin jarang menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya menjaga kekayaan budaya sekaligus mempertahankan tradisi liturgi yang telah hidup dan berkembang di Paroki Kelor selama bertahun-tahun.

Tugas Kenabian Seorang Lektor
Selain pembekalan teknis membaca Kitab Suci, para peserta juga mendapatkan penguatan spiritual mengenai hakikat pelayanan lektor dari Romo Trasno selaku Vikaris Paroki Kelor. Dalam arahannya, Romo Trasno menegaskan bahwa tugas lektor bukan sekadar membaca bacaan di depan altar, melainkan menjalankan tugas kenabian dalam Gereja.
“Menjadi lektor adalah tugas yang agung karena ikut ambil bagian dalam mewartakan Sabda Allah kepada umat. Ini adalah pelayanan yang suci dan serius karena seluruh Gereja mendengarkan pewartaan yang disampaikan,” ungkap Romo Trasno.
Beliau menambahkan bahwa seorang lektor merupakan pelayan kehadiran Kristus yang nyata dalam Sabda-Nya. Oleh karena itu, pelayanan lektor seharusnya dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan idealnya dijalankan oleh mereka yang telah dilantik secara resmi.
Romo Trasno juga mengajak para lektor untuk melayani dengan sepenuh hati, penuh cinta, kegembiraan, dan komitmen. Sebelum bertugas, seorang lektor dianjurkan berdoa agar mampu menjalankan pelayanannya dengan baik dan menjadi sarana pewartaan Allah bagi umat.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan pentingnya memiliki sikap batin yang sehat dan dewasa. Seorang pelayan Sabda perlu mampu menerima kritik dengan lapang hati, memilih respons yang positif, serta membuang pikiran-pikiran negatif yang dapat menjadi racun dalam kehidupan pelayanan. Sikap mudah memaafkan, tidak menyimpan dendam, serta senantiasa bersyukur dan optimis menjadi bagian penting dalam spiritualitas seorang lektor.
“Melayani dengan senyuman dan penuh semangat adalah kesaksian iman yang nyata. Jangan melayani dengan wajah murung atau penuh beban,” pesan beliau.
Selain itu, Romo Trasno menekankan pentingnya profesionalitas dalam pelayanan. Profesional bukan berarti mencari pujian, melainkan sungguh mempersiapkan diri sebelum bertugas. Seorang lektor perlu membaca terlebih dahulu teks Kitab Suci yang akan dibawakan, memahami isi dan konteksnya, serta berlatih agar pewartaan dapat disampaikan dengan jelas dan bermakna.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, penuh semangat belajar, dan diwarnai berbagai sesi praktik membaca Kitab Suci Bahasa Jawa. Para peserta tampak antusias mengikuti materi dan latihan yang diberikan. Melalui kegiatan ini, diharapkan para lektor semakin siap menjadi pewarta Sabda Allah yang mampu menyampaikan pesan keselamatan dengan baik, sekaligus ikut melestarikan warisan budaya Jawa yang hidup dalam liturgi Gereja.

Lektor, Pelayan Sabda yang Menghadirkan Kristus
Dalam tradisi Gereja Katolik, lektor bukanlah sekadar pembaca teks liturgi. Lektor adalah pelayan Sabda yang dipercaya Gereja untuk mewartakan firman Allah kepada umat beriman. Ketika seorang lektor membacakan Kitab Suci dalam perayaan liturgi, umat tidak hanya mendengarkan suara manusia, tetapi dipanggil untuk mendengarkan Allah sendiri yang berbicara melalui Sabda-Nya.
Karena itu, pelayanan lektor membutuhkan persiapan yang matang, baik secara teknis maupun rohani. Membaca dengan jelas, memahami isi bacaan, serta menghayati pesan yang disampaikan menjadi bagian dari tanggung jawab seorang lektor. Sabda Allah yang dibacakan dengan baik dapat membantu umat membuka hati dan mengalami perjumpaan dengan Kristus.
Di Paroki Kelor, penggunaan Bahasa Jawa dalam liturgi juga menjadi sarana inkulturasi iman. Gereja menghargai budaya setempat sebagai jalan untuk menghadirkan Injil secara lebih dekat dengan kehidupan umat. Ketika Sabda Allah diwartakan dalam Bahasa Jawa yang baik dan benar, umat dapat merasakan bahwa Allah hadir dan berbicara dalam bahasa serta budaya yang akrab dengan kehidupan mereka.
Tema “Mateng Ing Basa, Mentes Ing Warta” mengingatkan bahwa pewartaan Sabda yang baik lahir dari kesungguhan mempersiapkan diri. Semoga para lektor Paroki Kelor senantiasa menjadi pelayan Sabda yang setia, rendah hati, penuh sukacita, dan mampu menghadirkan Kristus melalui setiap pewartaan yang mereka sampaikan. Berkah Dalem.

