
KELOR, GUNUNGKIDUL – Senja mulai turun ketika umat Katolik berkumpul di tempat-tempat doa di wilayah Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang berjalan bersama umat lingkungan. Di tangan dan bibir mereka, doa Rosario menjadi ungkapan sederhana untuk mengawali sebuah bulan yang secara khusus dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria, Ratu Rosario.
Memasuki Bulan Rosario Oktober 2026, umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor mengawali bulan devosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario, perarakan patung Bunda Maria, dan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi.
Rangkaian pembukaan tersebut berlangsung dalam dua kesempatan. Pertama, pada Rabu, 30 September 2026, di Goa Maria Tobong, Sambeng, Gunungkidul. Kemudian, pada Kamis, 1 Oktober 2026, rangkaian serupa dilaksanakan di Goa Maria Biara Susteran CB RS Panti Rahayu, sebelum umat melanjutkannya dengan Misa Pembukaan Bulan Rosario di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor.
Menapaki Jalan Doa di Goa Maria Tobong
Rabu sore, 30 September 2026, mulai pukul 16.30 WIB, umat Katolik yang sebagian besar berada di wilayah utara Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor berkumpul di Goa Maria Tobong, Gunungkidul. Suasana tempat ziarah perlahan dipenuhi umat yang datang untuk mengawali Bulan Rosario.
Doa Rosario menjadi bagian awal dari rangkaian tersebut. Bait demi bait doa didaraskan, mengajak umat memasuki suasana hening dan menempatkan seluruh perjalanan hidup dalam penyertaan Tuhan melalui doa dan teladan Bunda Maria.
Doa kemudian dilanjutkan dengan perarakan patung Bunda Maria dari kapel Agustinus Tobong menuju Goa Maria Tobong. Dengan penuh penghormatan, umat berjalan bersama dalam suasana doa. Perarakan bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan menjadi simbol perjalanan iman dimana umat diajak berjalan bersama Bunda Maria agar semakin dekat dengan Putranya, Yesus Kristus.

Setelah rangkaian doa Rosario dan perarakan, umat mengikuti Misa Pembukaan Bulan Rosario yang dimulai pukul 18.00 WIB. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Christophorus Sutrasno Purwanto, Pr (Romo Trasno).
Di tempat yang telah menjadi ruang doa dan ziarah tersebut, pembukaan Bulan Rosario menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali menyadari bahwa devosi kepada Bunda Maria selalu mengarahkan hati kepada Kristus.

Dari Goa Maria Menuju Gereja Paroki
Keesokan harinya, Kamis, 1 Oktober 2026, semangat yang sama kembali hadir.
Rangkaian pembukaan Bulan Rosario dilaksanakan di Goa Maria Biara Susteran CB RS Panti Rahayu, mulai pukul 17.30 WIB. Umat mengawali kegiatan dengan doa Rosario dan perarakan patung Bunda Maria.

Rosario yang didaraskan bersama menjadi tanda bahwa Bulan Rosario bukan hanya sebuah tradisi tahunan. Doa tersebut menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, membuka hati, dan merenungkan kembali perjalanan hidup Yesus bersama Bunda Maria.
Dari Goa Maria, rangkaian kemudian dilanjutkan dengan Misa Pembukaan Bulan Rosario pukul 18.00 WIB di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Markus Januharka, Pr (Romo Nanung).
Dengan demikian, dua hari pembukaan Bulan Rosario di wilayah Paroki Kelor menjadi sebuah rangkaian yang mempertemukan doa, penghormatan kepada Bunda Maria, perarakan iman, dan puncaknya dalam Perayaan Ekaristi.

Rosario Adalah Doa yang Membawa Kita Merenungkan Kristus
Mengapa umat Katolik begitu dekat dengan doa Rosario?
Rosario bukan sekadar pengulangan doa. Di dalam setiap peristiwa Rosario, umat diajak untuk merenungkan kehidupan Yesus Kristus bersama Bunda Maria.
Ketika mendaraskan Salam Maria, umat tidak berhenti pada penghormatan kepada Maria. Justru melalui Maria, umat diarahkan untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Kristus.
Maria adalah perempuan yang berkata “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Ia menerima kehendak Allah, menyimpan dan merenungkan berbagai peristiwa dalam hatinya, serta setia menemani perjalanan Yesus hingga di kaki salib.
Karena itu, Rosario dapat menjadi sekolah doa bagi umat. Dalam keheningan dan pengulangan doa, umat belajar melihat kembali karya keselamatan Allah dalam kehidupan.
Mengapa Oktober Disebut Bulan Rosario?
Dalam tradisi Gereja Katolik, bulan Oktober dikenal sebagai Bulan Rosario, sedangkan bulan Mei secara khusus dikenal sebagai Bulan Maria.
Tradisi Bulan Rosario berkaitan erat dengan penghormatan Gereja kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario, yang dirayakan setiap 7 Oktober.
Tanggal tersebut memiliki hubungan dengan Pertempuran Lepanto pada 7 Oktober 1571. Pada saat itu, pasukan Liga Suci menghadapi armada Kesultanan Utsmaniyah di Lepanto. Paus Pius V mengajak umat Kristiani untuk berdoa Rosario memohon pertolongan dan perlindungan Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.
Kemenangan Liga Suci kemudian dikaitkan secara kuat dengan doa Rosario. Sebagai ungkapan syukur, Paus Pius V menetapkan peringatan Santa Maria dari Kemenangan. Dalam perkembangan selanjutnya, perayaan tersebut dikenal sebagai pesta Santa Perawan Maria, Ratu Rosario, yang dirayakan setiap 7 Oktober.
Tradisi tersebut kemudian semakin berkembang dan menjadikan Oktober sebagai bulan yang secara khusus dikaitkan dengan doa Rosario.
Namun, penting untuk dipahami bahwa umat Katolik tidak menyembah Maria. Penghormatan kepada Bunda Maria berbeda dengan penyembahan yang hanya ditujukan kepada Allah.
Maria dihormati karena perannya yang istimewa dalam sejarah keselamatan dan karena kesediaannya menjadi ibu bagi Yesus, Sang Juruselamat.

Bunda Maria Menunjukkan Jalan kepada Yesus Kristus
Katekese tentang Rosario membawa kita pada satu hal penting yaitu pusat iman Katolik tetaplah Kristus.
Bunda Maria tidak pernah menggantikan tempat Yesus. Sebaliknya, Bunda Maria justru selalu menunjuk kepada Putranya.
Hal ini terlihat jelas dalam peristiwa di Kana. Ketika terjadi kekurangan anggur, Maria berkata kepada para pelayan:
“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
(Yohanes 2:5)
Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi semangat umat ketika memasuki Bulan Rosario.
Berdoa Rosario bukan sekadar meminta berbagai kebutuhan melalui perantaraan Maria. Lebih dalam dari itu, Rosario mengajak umat belajar seperti Maria yang mendengarkan Sabda Allah, menyimpan dan merenungkannya, kemudian mewujudkannya dalam kehidupan.

Bulan Rosario, Saatnya Kembali kepada Doa
Pembukaan Bulan Rosario di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor melalui doa Rosario, perarakan patung Bunda Maria, dan Perayaan Ekaristi menjadi awal perjalanan iman sepanjang bulan Oktober.
Dari Goa Maria Tobong hingga Goa Maria Biara Susteran CB RS Panti Rahayu Kelor dan Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, umat diajak memasuki Oktober bukan hanya dengan sebuah tradisi, tetapi dengan semangat untuk memperbarui kehidupan doa.
Rosario dapat didaraskan di gereja, kapel, lingkungan, keluarga, maupun dalam kesederhanaan rumah masing-masing.
Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar berapa banyak Rosario yang telah didaraskan, tetapi sejauh mana doa itu mengubah hati dan membawa kita semakin dekat kepada Kristus.
Memasuki Bulan Rosario 2026, mari berjalan bersama Bunda Maria. Menggenggam Rosario, membuka hati, merenungkan kehidupan Yesus, dan belajar mengatakan seperti Maria :
“Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Semoga setiap butir Rosario yang didaraskan menjadi doa yang menumbuhkan iman, menguatkan keluarga, serta membawa umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor semakin dekat kepada Tuhan. Berkah Dalem.

