Pagelaran Wayang Wahyu Lustrum IV Paroki Kelor Mengobarkan Semangat ‘Murub’ Lewat Budaya dan Iman

Wayang wahyu lustrum paroki Kelor
Romo Riyanto dari Paroki Wonosari dan Romo Rhesa dari Paroki Bandung turut memeriahkan acara

GUNUNGKIDUL — Suasana halaman parkir barat gereja Katolik Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor mendadak meriah dan syahdu. Dalam rangka merayakan Lustrum Keempat (20 Tahun) berdirinya paroki, pada hari Minggu tanggal 2 Agustus 2026 dimulai pukul 19.00 WIB, sebuah pagelaran budaya berbalut iman Katolik bertajuk Wayang Wahyu sukses digelar. Mengangkat tema besar “Murub”, pertunjukan ini menghadirkan kolaborasi unik antara refleksi Kitab Suci, tradisi Jawa, dan hiburan populer.

Sebelum pertunjukan wayang wahyu dimulai, ada penyerahan piala festival karawitan dan penerimaan piagam penghargaan bagi para pemenang lomba administrasi wilayah dan lingkungan di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor.

Pemenang lomba administrasi lingkungan dan wilayah
Pemenang lomba administrasi lingkungan dan wilayah

Pagelaran wayang wahyu ini dipandegani oleh dalang Ki Romo Agustinus Handi Setyanto, Pr, seorang imam Katolik yang lihai menyelaraskan seni pedalangan dengan pewartaan Injil. Suasana semakin semarak dengan kehadiran pesinden kondang Elisha Orcharus Allaso sebagai bintang tamu, yang bersama para waranggana membawakan lagu-lagu rohani Katolik seperti Bapa Kami dan Hidup Ini Adalah Kesempatan.

Menariknya, pertunjukan ini juga menyajikan lagu Tombo Ati karya tradisi Nusantara yang telah disesuaikan ke dalam ajaran Katolik setelah memohon izin terlebih dahulu. Lagu “5 Tombo Ati Versi Katolik” tersebut memuat lima amalan hidup beriman:

  1. Maca Injil (Membaca Kitab Suci)
  2. Ndonga Rosario (Berdoa Rosario)
  3. Neng Gereja Dina Minggu (Beribadah ke Gereja pada hari Minggu)
  4. Rajin Kumpul Berjemaat (Aktif dalam kegiatan lingkungan/paguyuban)
  5. Nresnani Marang Kabeh Uwong (Mencintai dan mengasihi semua orang)

Lima tombo ati ini menjadi pegangan iman yang perlu diamalkan di zaman yang serba modetrn ini. Tak dipungkiri, saat ini banyak bermunculan berhala-berhala baru yang mengendalikan hidup dan mengancam iman seseorang jika tak dapat mengendalikannya. Berhala baru itu antara lain adalah handphone dan internet yang saat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Kehadirannya dapat memudahkan pekerjaan, namun dapat pula merusak tatanan kehidupan.

Penampilan Romo Handi dan bintang tamu Elisha

Mengenal Sejarah Wayang Wahyu dan Makna bagi Umat Katolik

Wayang Wahyu adalah seni pertunjukan wayang kulit yang dikembangkan khusus untuk menyebarkan nilai-nilai Injil dan cerita Kitab Suci.

Sejarah Singkat

Seni ini dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Brother Timotheus L. Wignyosoebroto, FIC di Surakarta. Beliau memiliki gagasan untuk menjadikan wayang—media inkulturasi Jawa yang efektif—sebagai sarana inkulturasi iman Katolik (katekesi). Tokoh-tokoh yang dimainkan bukan lagi Pandawa atau Kurawa, melainkan figur-figur dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Arti Wayang Wahyu

Kata “Wahyu” merujuk pada sabda atau pewahyuan Allah. Wayang Wahyu secara harfiah bermakna pertunjukan wayang yang menyampaikan Wahyu Ilahi kepada para penontonnya.

Wayang Wahyu Lakon Nabi Elia, Kobaran Api Iman yang Aktif

Wayang wahyu lakon Nabi Elia
Wayang wahyu lakon Nabi Elia

Sesuai dengan tema Lustrum IV Paroki Kelor, lakon yang diangkat oleh Ki Romo Agustinus Handi Setyanto, Pr mengisahkan keteladanan Nabi Elia dari Perjanjian Lama. Nabi Elia dikenal sebagai sosok nabi yang memiliki kobaran semangat penuh keberanian dalam membela iman akan Allah yang hidup di tengah ancaman dan ketidaksetiaan zaman.

Melalui lakon Nabi Elia, terdapat katekese mendalam bagi umat Paroki Kelor tentang arti kata (M)urub (Me)nyala :

Beralih dari Pasif ke Aktif

Kata “urub” (nyala) yang cenderung bernada pasif diajak untuk dibuka kurungnya menjadi “(M)urub” atau “(Me)nyala”—sebuah kata kerja aktif. Iman tidak cukup sekadar disimpan atau menjadi identitas pasif, melainkan harus dihidupi secara nyata.

Menyala Tanpa Membakar

Semangat murub mengobarkan api iman yang tak pernah padam di dalam hati umat. Api ini bertugas menerangi kegelapan dan memberikan kehangatan kasih bagi sesama, namun tidak sampai membakar atau merusak hubungan persaudaraan.

Para tamu undangan pagelaran wayang wahyu
Para tamu undangan pagelaran wayang wahyu

Refleksi Masa Depan Paroki Kelor

Melalui perayaan Lustrum IV dan pagelaran Wayang Wahyu ini, diharapkan umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor semakin peka terhadap kebutuhan sesama di sekitar mereka. Kehadiran Gereja di tengah masyarakat hendaknya menjadi saluran kasih yang senantiasa memberi kehangatan, kebaikan, dan pelayanan yang berdampak nyata.

Semangat murub yang telah dinyalakan malam itu menjadi pengingat bahwa iman Katolik yang mengakar pada budaya lokal mampu menjadi sarana pewartaan yang indah, inklusif, dan menguatkan persaudaraan antarumat beragama. Berkah Dalem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *