
PAROKI KELOR — Suasana Pendopo Santo Mateus Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor tampak hangat pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026. Sejak pukul 09.00 WIB, para prodiakon bersama para ketua lingkungan dan ketua wilayah se-Paroki Kelor berdatangan mengisahkan karsa dan pengabdian mereka di tengah umat.
Pertemuan yang berlangsung dari pukul 09.30 hingga 12.00 WIB ini mengusung tema penting yang menyentuh urat nadi kehidupan beriman: “Ajaran Sosial Gereja dan Aktualitanya”. Acara diampu langsung oleh Romo Paroki Kelor, Romo Markus Januharka, Pr atau yang akrab disapa Romo Nanung.
Panggilan Untuk Melayani
Di pendopo Santo Mateus, katekese tidak berlangsung kaku bak perkuliahan formal, melainkan mengalir sebagai dialog iman yang hidup. Wajah-wajah pelayan umat yang saban minggu membagikan Komuni Suci dan memimpin doa di lingkungan kini duduk bersama, menyimak serta merefleksikan kembali peran strategis mereka.
Romo Nanung membuka perjumpaan dengan mengajak seluruh pelayan pastoral melihat kembali wajah masyarakat di sekitar tempat tinggal masing-masing. Pelayanan gereja tidak boleh berhenti di ambang pintu altar atau ruang sakristi semata, melainkan harus bergulir hingga ke jalanan, pasar, dan rumah-rumah umat yang membutuhkan sentuhan kasih.
“Pelayanan prodiakon dan pengurus lingkungan bukan sekadar urusan membagi tugas liturgi atau mencatat iuran harian, melainkan bagaimana iman Kristiani berdampak nyata bagi kesejahteraan sesama di sekitar kita,” ungkap Romo Nanung dalam pencerahannya.
Mengapa Ajaran Sosial Gereja Sangat Penting?
Secara katekese, Ajaran Sosial Gereja (ASG) adalah tanggapan Gereja terhadap dinamika dan persoalan zaman. Ajaran sosial gereja bukanlah sekadar teori sosial, melainkan kompas moral Kristiani yang berakar kuat dari Injil dan tradisi Gereja.
Dalam sesi katekese interaktif ini, terdapat beberapa poin utama yang ditegaskan kembali kepada para prodiakon, ketua lingkungan, dan ketua wilayah:
- Martabat Manusia (Human Dignity): Setiap pribadi manusia diciptakan menurut citra Allah (Imago Dei). Pelayanan pastoral harus senantiasa menghargai dan membela martabat setiap orang tanpa terkecuali.
- Kesejahteraan Bersama (Bonum Commune): Gereja dipanggil untuk aktif mengupayakan kondisi sosial yang memungkinkan setiap individu dan kelompok mencapai pemenuhan hidup mereka secara lebih utuh.
- Option for the Poor (Pilihan Mengabdi yang Miskin dan Lemah): Iman yang hidup diwujudkan dalam kepedulian konkrit terhadap sesama yang tersingkirkan, sakit, dan membutuhkan uluran tangan.
- Subsidiaritas dan Solidaritas: Peran aktif ketua lingkungan dan wilayah sebagai pilar terdepan Gereja yang paling dekat dengan pergumulan nyata umat sehari-hari.

Menghidupi Ajaran Sosial Gereja dalam Pastoral Lingkungan
Kehadiran para ketua lingkungan dan ketua wilayah bersama para prodiakon membuat diskusi aktualisasi Ajaran sosial gereja menjadi sangat kaya. Berbagai pergumulan konkret di lapangan dibahas bersama, mulai dari kepedulian terhadap lansia, pendampingan keluarga yang kesulitan ekonomi, hingga menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat.
Perjumpaan ini menegaskan kembali bahwa seorang pelayan altar (prodiakon) dan pelayan masyarakat (ketua lingkungan/wilayah) adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi harus berbuah pada tindakan nyata menjadi “Tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan” bagi dunia.
Harapan ke Depan
Pertemuan yang diakhiri dengan doa bersama pada pukul 12.00 WIB ini meninggalkan kesan mendalam dan semangat baru bagi seluruh peserta. Diiringi senyum dan kehangatan persaudaraan, para rasul awam Paroki Kelor ini pulang membawa perutusan baru agar menjadikan lingkungan dan wilayah masing-masing sebagai Oase Kasih yang menghidupi Ajaran Sosial Gereja secara nyata.
Semoga semangat perjumpaan di Pendopo Santo Mateus ini terus mengobarkan api pelayanan seluruh pengurus dan umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor. Berkah Dalem.

