Remaja Paroki Kelor Nggegulang Sabda Nglestantunaken Basa

Lomba Membaca Kitab Suci Bahasa Jawa Remaja Paroki Kelor
Lomba Membaca Kitab Suci Bahasa Jawa Remaja Paroki Kelor

Pagi itu, udara di kawasan Wonosari Jurangjero, Gunungkidul, terasa berbeda. Ada semangat muda yang berpadu dengan keheningan doa. Di Kapel Aloysius Gonzaga yang termasuk dalam wilayah Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Minggu (27/9/2026), puluhan pasang mata tampak berbinar namun menyimpan ketegangan kecil di balik senyum mereka. Hari itu, Paroki Kelor melalui Tim Pelayanan Lektor Bidang Liturgi menggelar acara istimewa yang memikat yaitu Lomba Membaca Kitab Suci Bahasa Jawa untuk Remaja usia Pendampingan Iman Remaja (PIR).

Mengusung tema “Nggegulang Sabda Nglestantunaken Basa” yang berarti Mendalami Sabda Melestarikan Bahasa. Kegiatan yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB ini bukan sekadar ajang unjuk kemampuan vokal. Ini adalah panggung peneguhan iman sekaligus wujud cinta kasih generasi muda pada budaya leluhur.

Setiap lingkungan di paroki mengirimkan satu orang perwakilan terbaiknya. Para remaja putra dan putri ini tampil bergantian di altar, memegang leksionaris, dan melantunkan Sabda Tuhan dalam balutan luhurnya bahasa Jawa krama. Suasana kapel yang biasanya tenang mendadak berubah magis setiap kali suara jernih para peserta memecah keheningan, mengalunkan wirama dan intonasi khas bahasa Jawa yang penuh penghayatan.

Catatan Katekese Tim Pelayanan Lektor

Mengapa Lomba Membaca Kitab Suci Penting
Mengapa Lomba Membaca Kitab Suci Penting?

Mengapa lomba membaca kitab suci itu penting? Di balik suksesnya acara yang riuh dukungan dari para pendukung lingkungan masing-masing, tersimpan sebuah pesan katekese mendalam yang disampaikan oleh Tim Pelayanan Lektor Bidang Liturgi Paroki Kelor.

“Membaca Kitab Suci di dalam liturgi bukanlah sekadar melafalkan huruf-huruf mati, melainkan menjadi jembatan hidup di mana Allah sendiri menyapa umat-Nya,” ungkap perwakilan Tim Pelayanan Lektor Bidang Liturgi.

Melalui katekese singkat di sela-sela acara, tim menegaskan bahwa pemilihan bahasa Jawa sebagai medium utama bukan tanpa alasan. Di tengah era modernisasi di mana bahasa ibu kian terpinggirkan oleh gawai dan bahasa populer, Gereja terpanggil untuk merawat warisan budaya. Remaja usia PIR diajak untuk menyadari bahwa iman Katolik dan kebudayaan lokal bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat saling menghidupkan.

“Ketika seorang remaja membawakan Sabda Tuhan dengan bahasa Jawa yang baik dan benar, ia sedang melakukan dua hal sekaligus yaitu menyelami kedalaman pesan keselamatan dari Kitab Suci, sekaligus merawat kelestarian martabat bahasa leluhur kita,” lanjutnya. Katekese ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tugas seorang lektor atau pembaca sabda menuntut kerendahan hati, latihan yang serius, serta kedekatan relasi pribadi dengan Sang Sabda itu sendiri.

Catatan Katakese Tim Pelayanan Lektor
Para pemenang lomba membaca Kitab Suci Bahasa Jawa. Selamat!

Wajah-Wajah Penuh Harapan Generasi Penerus Paroki Kelor

Para peserta tampil memukau dengan persiapan yang matang. Meski beberapa sempat mengaku grogi menghadapi dewan juri dan tatapan umat yang memenuhi kapel, dukungan hangat dari keluarga dan teman-teman se-lingkungan membakar kepercayaan diri mereka.

Tawa renyah, tepuk tangan riuh saat nomor peserta dipanggil, hingga raut tegang saat dewan juri memberikan catatan penilaian mewarnai jalannya lomba hingga siang hari. Kapel Aloysius Gonzaga Wonosari Jurangjero seakan menjadi saksi hidup bagaimana Gereja Katolik di tingkat basis khususnya Paroki Kelor terus merawat tunas-tunas muda yang berakar kuat pada iman dan berbudaya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para remaja PIR tidak berhenti pada panggung perlombaan saja. Lebih dari itu, pengalaman meresapi Kitab Suci dalam bahasa Jawa hari ini diharapkan menjadi benih panggilan yang kelak mereka bawa kembali ke lingkungan masing-masing, menghidupkan tugas lektor dalam perayaan Ekaristi mingguan dengan penuh rasa tanggung jawab dan cinta kasih.

Bukan soal menang atau kalah, remaja Katolik yang sudah berani tampil dengan versi terbaiknya patut diacungi jempol. Hargai prosesnya, tidak sekedar melihat hasil akhir. Di akhir bulan Kitab Suci ini, semoga para remaja, generasi penerus gereja makin terpanggil untuk mempelajari dan mengamalkan sabda Tuhan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari dan bekal untuk masa depannya kelak.

Berkah Dalem!

Wajah penuh harapan
Wajah penuh harapan generasi penerus Paroki Kelor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *