Remaja Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor Belajar Kitab Suci Mengenal Santo Matius Penginjil

Keceriaan Remaja Paroki Kelor
Remaja Paroki Kelor bersukacita belajar Kitab Suci

Sabtu pagi biasanya menjadi waktu untuk bersantai. Namun, suasana berbeda tampak di SMK Sanjaya Ngawen, Gunungkidul pada Sabtu, 19 September 2026. Sejak pukul 09.00, para remaja dari berbagai wilayah dan lingkungan di kawasan Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor mulai berdatangan untuk mengikuti kegiatan belajar Kitab Suci.

Bukan sekadar duduk diam mendengarkan penjelasan, pagi itu para remaja diajak mengenal Kitab Suci dengan cara yang menyenangkan. Bernyanyi, menari, bermain, menjawab pertanyaan, hingga beradu pengetahuan dalam cerdas cermat menjadi bagian dari kegiatan yang berlangsung hingga pukul 12.00.

Kegiatan tersebut diikuti oleh para remaja yang berasal dari 8 wilayah dan 39 lingkungan yang berada di kawasan Paroki Kelor.

Tema yang diangkat pun menarik, yakni “Santo Matius Penginjil.” Romo Paroki Markus Januharka, Pr, atau yang akrab disapa Romo Nanung, hadir sebagai narasumber untuk mengajak para remaja semakin mengenal sosok Santo Matius dan pesan iman yang dapat ditemukan melalui Kitab Suci.

Cedas Cermat Kitab Suci Remaja Paroki Kelor

Pagi itu, SMK Sanjaya Ngawen tidak hanya dipenuhi suasana belajar, tetapi juga keceriaan para remaja.

Kakak-kakak pendamping dari Timpel PIR Bidang Pewartaan mengambil bagian penting dalam mencairkan suasana. Para remaja diajak bernyanyi dan menari bersama. Suasana yang semula mungkin terasa seperti kegiatan belajar biasa berubah menjadi ruang perjumpaan yang hangat dan penuh kegembiraan.

Belajar Kitab Suci pun tidak harus selalu identik dengan suasana serius dan kaku.

Melalui permainan dan aktivitas bersama, para remaja diajak menyadari bahwa Kitab Suci dekat dengan kehidupan mereka. Firman Tuhan dapat dipelajari dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan dunia kaum muda.

Setelah suasana semakin hidup, kegiatan dilanjutkan dengan cerdas cermat ala Ranking #1.

Pertanyaan-pertanyaan seputar Kitab Suci menjadi tantangan bagi para peserta. Satu per satu pertanyaan diberikan, dan para remaja berusaha memberikan jawaban yang tepat. Sesekali terdengar sorak kegembiraan ketika seorang peserta berhasil menjawab dengan benar.

Bagi mereka yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat, tersedia hadiah yang semakin menambah semangat untuk mengikuti permainan.

Namun, lebih dari sekadar mengejar hadiah, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para remaja untuk mengingat kembali berbagai pengetahuan tentang iman dan Kitab Suci yang mereka miliki.

Cerdas cermat kitab suci remaja paroki Kelor
Cerdas cermat kitab suci remaja paroki Kelor

Mengenal Santo Matius, Penginjil yang Mewartakan Kristus

Di tengah suasana penuh kegembiraan tersebut, Romo Nanung mengajak para remaja masuk lebih dalam pada tema Santo Matius Penginjil.

Santo Matius dikenal dalam tradisi Gereja sebagai salah satu dari dua belas rasul Yesus dan secara tradisional dikaitkan dengan Injil menurut Matius. Kisah panggilan Matius dapat ditemukan dalam Injil, ketika Yesus memanggil seorang pemungut cukai untuk mengikuti-Nya.

Perjumpaan dengan Yesus itu menjadi titik penting dalam kehidupan Matius.

Dari seorang yang menjalani pekerjaannya sebagai pemungut cukai, Matius kemudian mengikuti Yesus dan menjadi bagian dari pewartaan kabar gembira tentang Kerajaan Allah.

Kisah tersebut memberikan pesan penting bagi para remaja yaitu setiap orang mempunyai kesempatan untuk mengalami perubahan dan dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya pewartaan.

Panggilan untuk mengikuti Kristus bukan hanya milik orang-orang tertentu. Kaum muda pun mempunyai tempat yang penting dalam kehidupan Gereja.

Remaja Berakar pada Firman Tuhan

Belajar Kitab Suci bukan hanya soal mengetahui siapa tokoh-tokoh dalam Alkitab atau mampu menjawab pertanyaan dalam sebuah kuis.

Lebih jauh daripada itu, Kitab Suci mengajak setiap orang untuk mengenal Allah dan menemukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Santo Matius mengingatkan bahwa perjumpaan dengan Kristus dapat mengubah arah hidup seseorang. Ketika seseorang membuka hati terhadap panggilan Tuhan, hidupnya dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kabar gembira bagi orang lain.

Bagi para remaja Katolik, pengalaman tersebut menjadi penting. Masa remaja merupakan masa untuk menemukan jati diri, membangun persahabatan, mengembangkan talenta, sekaligus mulai menentukan arah kehidupan.

Di tengah berbagai pengaruh yang hadir melalui lingkungan pergaulan dan dunia digital, Firman Tuhan dapat menjadi dasar dan pedoman dalam mengambil keputusan.

Karena itu, menjadi remaja Katolik tidak cukup hanya dengan mengenal ajaran iman. Iman juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari: melalui sikap saling menghargai, kepedulian terhadap sesama, kejujuran, keberanian menyuarakan kebenaran, serta kesediaan untuk melayani.

Dengan demikian, para remaja tidak hanya menjadi orang yang mengetahui Firman Tuhan, tetapi juga menjadi pribadi yang hidup berdasarkan Firman Tuhan.

Keceriaan yang terlihat sepanjang kegiatan menunjukkan bahwa belajar Kitab Suci dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi kaum muda. Ada tawa ketika bernyanyi dan menari. Ada semangat ketika mengikuti permainan. Ada ketegangan ketika menjawab pertanyaan Ranking #1. Ada pula kegembiraan ketika mendapatkan hadiah. Namun, di balik semua itu, tersimpan tujuan yang lebih besar yaitu menumbuhkan kecintaan para remaja terhadap Kitab Suci.

Kegiatan belajar Kitab Suci ini menjadi ruang bagi para remaja dari 8 wilayah dan 39 lingkungan Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor untuk berkumpul, berjumpa, belajar, dan bertumbuh bersama dalam iman.

Dari perjumpaan sederhana selama tiga jam itu, para remaja diajak membawa pulang bukan hanya pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga semangat untuk semakin dekat dengan Sabda Tuhan.

Sebab, Firman Tuhan bukan hanya untuk dibaca dan dihafalkan. Firman Tuhan hendaknya berakar dalam hati, bertumbuh dalam kehidupan, dan menghasilkan buah dalam tindakan nyata.

Remaja berakar pada firman Tuhan
Remaja berakar pada firman Tuhan

Menjadi Garam dan Terang Dunia

Perjumpaan para remaja dengan Kitab Suci pada Sabtu pagi itu akhirnya bermuara pada sebuah panggilan yang sederhana sekaligus mendalam.

Remaja Katolik yang berakar pada Firman Tuhan dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia.

Garam memberi rasa. Terang membantu orang melihat jalan.

Demikian pula para remaja Katolik diharapkan mampu membawa rasa kasih, sukacita, kepedulian, dan pengharapan di tengah keluarga, sekolah, lingkungan pertemanan, masyarakat, serta Gereja.

Belajar Kitab Suci di Kapel Sang Timur Ngawen boleh saja berakhir ketika jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Namun, perjalanan untuk menghidupi Firman Tuhan justru baru dimulai ketika para remaja kembali ke rumah dan lingkungan mereka masing-masing.

Semoga semangat yang tumbuh dalam kegiatan ini terus menyala: semakin mengenal Kitab Suci, semakin mencintai Kristus, dan semakin berani menjadi saksi-Nya di tengah dunia.

“Hendaknya kamu menjadi garam dunia dan terang dunia.”

Bukan hanya mengetahui Firman Tuhan, tetapi juga menjadi pelaku Firman dalam kehidupan sehari-hari. Berkah Dalem.

Menjadi garam dan terang dunia
Menjadi garam dan terang dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *