
PAROKIKELOR.COM, KELOR – Suasana khidmat dan penuh rasa nasionalisme menyelimuti halaman Gereja Santo Petrus dan Paulus Kelor pada Senin (17/8/2026) pagi. Tepat pukul 08.00 WIB, puluhan umat berkumpul bersama untuk melaksanakan Upacara Bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Upoacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan negara Republik Indonesia tercinta di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta ini berlangsung seperti upacara bendera pada umumnya. Ada pembacaan naskah proklamasi, pengibaran bendera merah putih diiringi menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, pembacaan pembukaan UUD 1945, pembacaan teks Pancasila dan pembacaan doa. Para petugas upacara pun dalam formasi lengkap yang terdiri dari protokol, pemimpin barisan, pemimpin upacara, pembina upacara, pengibar bendera, dirigen, dan para pembaca teks yang disebutkan diatas.

Upacara bendera tersebut dipimpin langsung oleh Romo Markus Januharka, Pr (yang akrab disapa Romo Nanung) sebagai pembina upacara. Kehadiran segenap elemen umat paroki dalam barisan upacara menjadi bukti nyata komitmen umat Katolik Paroki Kelor untuk senantiasa merawat rasa cinta tanah air dan menjaga keutuhan Bangsa Indonesia.

Dalam amanatnya, Romo Nanung menyampaikan pesan bahwa kemerdekaan sejati dapat dimaknai sebagai kemerdekaan dalam melaksanakan kehendak Tuhan dalam kasih dan semangat pelayanan sehingga bermanfaat bagi sesama dan dapat mencapai tujuan menjadi gereja yang bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan.

Usai upacara bendera yang berlangsung tertib dan penuh kehangatan, suasana halaman gereja berubah menjadi riuh penuh tawa. Panitia menghadirkan aneka lomba khas Tujuhbelasan yang dapat diikuti oleh anak-anak, remaja, hingga kaum adiyuswa. Gelak tawa dan semangat persaudaraan membuat perayaan kemerdekaan berlangsung meriah serta penuh kegembiraan. Rangkaian peringatan kemerdekaan pada hari Senin ini kemudian ditutup dengan Misa Kemerdekaan RI yang digelar pada sore hari.

Perayaan Imamat dan Refleksi Surat Gembala Uskup KAS
Rangkaian perayaan kemerdekaan di Paroki Kelor sejatinya telah diawali sejak Misa Mingguan pada hari sebelumnya, Minggu (16/8/2026), yang juga merupakan hari Bunda Maria Diangkat Ke Surga.. Perayaan Ekaristi hari itu terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun Imamat ke-37 Romo Christophorus Sutrasno Purwanto, Pr.
Dalam homili singkatnya, Romo Sutrasno menyampaikan perenungan berharga yang disarikan dari Surat Gembala Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) menyambut HUT RI ke-81. Beliau menegaskan kembali prinsip perutusan Umat Katolik Indonesia, yakni menjadi sosok yang 100% Katolik dan 100% Indonesia. Romo Sutrasno menjelaskan bahwa ada dua dimensi penting dalam memaknai kemerdekaan, yaitu “Merdeka Dari” dan “Merdeka Untuk”.
“Sebagai umat Katolik, kita tidak boleh hanya berhenti pada pemaknaan merdeka dari penjajahan fisik semata. Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang bertanggung jawab—bukan bebas sebebas-bebasnya tanpa arah, melainkan kemerdekaan yang memiliki makna, langkah hidup yang jelas, serta semangat pelayanan,” tutur Romo Sutrasno.

Katakese : Makna, Langkah Nyata, dan Semangat Kemerdekaan
Memaknai kemerdekaan yang bertanggung jawab berarti menyelaraskan kebebasan kita dengan nilai-nilai Injil. Berikut adalah tiga poin utama refleksi kemerdekaan bagi Umat Paroki Kelor:
- Makna Kemerdekaan (Kebebasan untuk Mengasihi)
Kemerdekaan sejatinya adalah kebebasan untuk mengasihi, melayani, dan mengangkat martabat sesama, bukan untuk memuaskan kepentingan diri sendiri. Kemerdekaan memberi kita ruang untuk menjadi saluran berkat bagi lingkungan sekitar.
- Langkah Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari
Kemerdekaan yang bermakna diwujudkan melalui aksi konkrit: memulihkan hubungan yang retak dalam keluarga maupun persaudaraan, uluran tangan untuk menolong sesama yang sedang kesulitan, kepedulian merawat lingkungan hidup (ekologi), serta kearifan dalam memanfaatkan teknologi digital secara bijak.
- Semangat Hidup : Urip Iku Urup
Gereja juga mengaitkan nilai kemerdekaan dengan kearifan lokal melalui filosofi Jawa “Urip iku Urup”—artinya hidup itu hendaknya menyala dan memberi manfaat bagi sesama. Kemerdekaan mengundang kita untuk tidak hidup bagi diri sendiri, melainkan membawa terang dan kebaikan di tengah masyarakat.

Bebas Merdeka untuk Melayani
Pesan mengenai kemerdekaan yang bertanggung jawab dan penuh kasih ini berakar kuat dalam Kitab Suci, sebagaimana tertulis dalam Galatia 5:13:
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
Melalui pesan Santo Paulus kepada jemaat di Galatia ini, kita diingatkan kembali bahwa kebebasan yang dianugerahkan Allah, termasuk kemerdekaan bangsa kita harus diisi dengan kerendahan hati untuk saling melayani.
Semoga semangat HUT RI ke-81 ini semakin memperteguh iman dan rasa nasionalisme segenap umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor untuk terus menjadi terang di tengah Gereja dan Bangsa.
Merdeka! Berkah Dalem.

